Wamenag: Pesantren Tonggak Utama Pengawal Moderasi Beragama

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 03 Apr 2021 18:42 WIB
Wamenag Zainut Tauhid Saadi hadir dalam acara Haflatul Ikhtitam Pondok Pesantren Asshiddiqiyah di Kedoya, Jakarta Barat.
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa'adi hadir dalam acara Haflatul Ikhtitam Pondok Pesantren Asshiddiqiyah di Kedoya, Jakarta Barat. (Foto: dok Wamenag Zainut Tauhid)
Jakarta -

Wakil Menteri Agama (Wamenag) Zainut Tauhid Sa'adi hadir dalam acara Haflatul Ikhtitam Pondok Pesantren Asshiddiqiyah di Kedoya, Jakarta Barat. Wamenag meyakini pesantren sebagai tonggak utama dalam mengawal moderasi beragama.

"Saya meyakini bahwa pesantren adalah tonggak utama dalam mengawal moderasi beragama," kata Zainut dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (3/4/2021).

Zainut mengatakan moderasi beragama tidak akan tercipta tanpa prinsip adil dan berimbang. Prinsip seperti ini, sebut Zainut, telah lama diajarkan di lingkungan pesantren.

"Pemerintah meyakini, pengetahuan agama Islam secara menyeluruh dan mendalam yang adil dan berimbang, banyak bermula dari tradisi pembelajaran di pesantren," jelasnya.

Wamenag meyakini, pendidikan model pesantren dapat menjadi jawaban meningkatnya semangat masyarakat untuk belajar agama. Pembelajaran agama yang keliru, menurutnya, terbukti berpengaruh pada munculnya eksklusivisme beragama dan intoleransi, yang berpotensi konflik di tengah masyarakat dan mengancam kesatuan bangsa.

"Oleh sebab itu, kami mengajak Bapak/Ibu dan seluruh masyarakat pesantren untuk memasyarakatkan dan memelihara Islam wasathiyah, yang merupakan solusi paling tepat menghadapi kemajemukan bangsa," ucap Zainut.

"Misi kenabian yang diemban oleh pondok pesantren sepatutnya memberi inspirasi pada kita dalam menghadapi segala kesulitan yang hadir utamanya pada masa pandemi COVID-19 ini," sambungnya.

Wamenag menyampaikan turut ucapan selamat kepada para santri yang baru saja menyelesaikan sekolah. Zainut berpesan agar alumni tetap menggenggam erat nilai-nilai Islam khas pesantren.

"Santri kini bisa jadi apa saja, termasuk presiden, wakil presiden, ilmuwan, dokter, advokat, insinyur dan tentunya ulama. Minimal, santri menjadi pribadi yang memahami ilmu agama untuk berkontribusi positif dalam perbaikan dan peningkatan kualitas hidup bangsa dan negara secara berkelanjutan," ucapnya.

(run/run)