Gubernur Sumsel: Jangan Panik, Kita Jamin Harga Beras Tetap Normal

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Kamis, 01 Apr 2021 22:03 WIB
Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru mengingatkan masyarakat terutama para petani untuk tidak panik terhadap dengan kondisi harga beras dan gabah di Sumsel.
Foto: Dok. Pemprov Sumsel
Jakarta -

Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Herman Deru mengingatkan masyarakat terutama para petani untuk tidak panik terhadap kondisi harga beras dan gabah di Sumsel. Pihaknya meyakini harga beras di Sumsel tetap stabil di pasaran.

"Jangan panik. Kita jamin harga (beras) akan tetap normal. Sebab Bulog terus membuka keran penyerapan hasil panen sejak Januari hingga Maret ini. Artinya akan terus ditampung hasil panen para petani," ujarnya dalam keterangan tertulis, Kamis (1/4/2021)

Hal itu dia ungkapkan saat menerima audiensi Pemimpin Wilayah Bulog Kanwil Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumselbabel), Rabu (31/3). Herman Deru mengatakan setiap tahunnya Bulog akan menyerap hingga 100 ribu ton beras hasil petani. Hingga Maret 2021 ini saja, Sumsel menduduki posisi nomor empat sebagai daerah yang terbanyak menyerap beras petani.

"Semua gudang di Sumsel buka semuanya untuk penyerapan beras petani. Namun untuk daya tampung diperlukannya siklus dalam memasok maupun keluar (jual) sehingga tidak terjadinya penumpukan di gudang serta terbatasnya daya tampung. Artinya masyarakat harus tahu strategi pasar, kapan harus menjualnya," terangnya.

Di sisi lain, orang nomor satu di Sumsel ini menegaskan pemerintah tidak akan tinggal diam terhadap permasalahan yang menyangkut hasil produksi petani. Pemprov Sumsel telah berkontribusi membeli beras petani melalui Bulog. Setidaknya Rp 60 miliar anggaran yang disiapkan.

"Ini upaya yang kita lakukan untuk membantu masyarakat petani. Kita minta agar ini bisa dilakukan juga oleh kabupaten/kota di Sumsel untuk memperlancar serapan hasil panen petani di daerah masing-masing," terangnya.

Dia menambahkan ada beberapa faktor lain yang ikut mempengaruhi serapan Bulog terhadap beras petani, seperti siklus daya tampung Bulog yang tidak begitu lancar, musim panen yang telah dimulai sejak November 2020 hingga Maret 2021, hingga bantuan sosial (Bansos) yang beralih menjadi tunai.

"Kita minta agar Mensos kebijakan pemberian Bansos tidak lagi diganti dengan uang secara tunai namun untuk daerah tertentu tetap dalam bentuk beras, sehingga serapan Bulog Sumsel bisa terbantu dan hasil petani di Sumsel bisa diserap lebih cepat lagi," tandasnya.

Sementara Pemimpin Wilayah Bulog Kanwil Sumselbabel Ali Ahmad Najih Amsari mengatakan target serapan Bulog setiap tahunnya sebesar 100 ribu ton. Sisa stok beras di gudang tahun lalu ada 20 ribu ton.

"Pada tahun ini saja, kita sudah menyerap sebanyak 16.334 ton beras. Artinya, daya tampung gudang kita tinggal berkisar 50 ribu ton saja. Ini akan terus kita maksimalkan dengan membuka semua gudang yang ada di Sumsel," ucapnya.

Kendati demikian, Aan panggilan akrabnya menjelaskan serapan beras Sumsel terbilang cukup baik secara nasional karena menduduki posisi nomor empat di Indonesia sebagai daerah terbanyak menyerap beras petani.

"Ada beberapa daerah yang telah panen duluan, pada September 2020 lalu. Namun, panen raya puncak terjadi pada Maret-April. Kita buka semua gudang, bahkan hari Sabtu dan Minggu. Beras petani Sumsel semuanya tetap kita terima (beli)," pungkasnya.

Tonton juga Video: Blak-blakan Sutarto Alimoeso, Dua Kunci Stop Impor Beras

[Gambas:Video 20detik]



(akd/ega)