Kolom Hikmah

Nasihat Pemimpin

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 02 Apr 2021 06:05 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Seorang pemimpin yang tentu mempunyai bekal wawasan yg luas, dan telah memberikan nasihat tentang keutamaan ilmu. Penulis menukil sebagian nasihat tersebut:

Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib ra, menurut Kumail, pernah memegang tangannya. Lalu Ali mengajaknya keluar ke al-Jaban, dan menghembuskan nafas di atas pegunungan. Kepada Kumail, Ali berkata, "Sesungguhnya hati ini bagaikan bejana. Dan hati yang paling baik ialah yang paling banyak menampungnya. Maka, peliharalah apa yang aku katakan padamu ini."

Manusia itu ada tiga macam. Pertama, orang alim rabbani ( orang alim yang patuh kepada Allah ). Kedua, orang yang mencari ilmu untuk menuju jalan keselamatan. Ketiga, orang hina yang biadab dan selalu mengikuti saja setiap ajakan. Mereka selalu mengikuti arah angin, tiada memperoleh cahaya ilmu dan tidak berpegang pada tiang-tiang yang kokoh.

Wahai Kumail, ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu itu menjaga dirimu, sedangkan engkau menjaga hartamu. Harta itu berkurang karena dinafkahkan, sedangkan ilmu semakin bertambah bilamana dinafkahkan, dan pemilik harta akan lenyap bersama dengan lenyapnya harta itu sendiri. Mengetahui ilmu itu adalah aktifitas agama yang harus dilakukan. Dengan ilmu manusia dapat melakukan ketaatan dalam hidupnya dan memperoleh kesenangan baru sesudah matinya. Ilmu adalah hakim sedangkan harta adalah yang dihakimi.

Adapun penyimpan harta itu telah binasa ketika mereka masih hidup, sedangkan para ahli ilmu tetap abadi sepanjang masa. Meskipun jasad mereka telah tiada dan suri tauladan serta peninggalan yang baik tetap tersimpan dalam hati sanubari. Di sinilah terdapat ilmu yang banyak sekali ( beliau berisyarat sambil menunjuk ke dadanya ), alangkah baiknya kalau engkau dapat memikulnya.

Ilmu merupakan kesenangan yang paling mulia, bagi orang yang menyenanginya. Kemuliaan ilmu akan berbuah bagi pemiliknya dan keutamaannya akan berkembang bagi orang yang mencarinya. Tentu berbeda bagi orang yang mempunyai ilmu dan orang yang tiada berilmu. Laksana orang yang mengetahui bercocok tanam dengan baik dengan orang tidak mempunyai ilmu bertanam. Hasil panen akan terlihat berbeda.

Allah berfirman : " Katakanlah, apakah sama orang - orang yang mengetahui dengan orang - orang yang tidak mengetahui?" ( QS az - Zumar [39]: 9 ) diikuti firman berikutnya : " Dan tidak ada yang memahaminya kecuali mereka yang berilmu. " ( QS al-'Ankabut [29] : 43 ).

Allah menjadikan orang yang berilmu bisa memahami perintah dan mengerti larangannya.

Mush'ab' bin Zubair berkata kepada anaknya. "Belajarlah ilmu. Jika engkau mempunyai harta, maka ilmumu menjadi keindahan. Jika engkau tidak mempunyai harta, maka ilmumu menjadi harta. Sedang Abdul Malik bin Marwan berkata kepada anak-anaknya. " Wahai anak-anakku, belajarlah ilmu. Jika kalian para elite, maka kalian unggul. Jika kalian kelas menengah, maka kalian benar dan jika kalian rakyat jelata, maka kalian hidup."

Betapa pentingnya bekal ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari, bisa sebagai jendela menuju masa depan, menjadi paham dan mengerti atas perintah dan larangan-Nya, bisa menuntun para pemimpin menjadi insan yang unggul dan menghindarkan seseorang menjadi tiada berdaya. Berlebihan adalah tindakan yang kurang elok, namun berlebihan dalam menuntut ilmu dianjurkan. Dunia saat ini terjadi perubahan yang saling berkejaran ( sangat cepat ), hal ini di dorong dengan adanya penemuan-penemuan baru dengan landasan penguasaan teknologi. Oleh karenya para generasi muda Islam, janganlah terlena dan kuasailah teknologi serta berilah kontribusi dalam peradaban.

Penguasaan terhadap harta bukanlah tidak penting, peran harta dalam perjuangan di jalan Allah menjadikan faktor yang penting seperti dicontohkan para sahabat di masa awal pengembangan ajaran Islam. Seperti nasihat diatas bahwa ilmumu akan menjadi keindahan jika mempunyai harta, dan ilmumu menjadikan harta jika miskin.

Khusus bagi seorang pemimpin yang berilmu dan beriman, maka dia akan selalu bertindak dan membuat kebijakan berdasarkan ilmu yang dimiliki serta selalu mengingat-Nya. Dia akan lebih bersikap " melayani " pada rakyatnya, karena paham bahwa jabatannya itu adalah amanah.

Penulis teringat dengan gaya kepemimpinan Erdogan, ada yang menarik bahwa dia sangat sabar. Pada awal pemerintahannya sebagai perdana menteri, hampir 3,5 tahun sang istri tidak bisa masuk istana negara karena berhijab ( saat itu ada uu yg melarangnya ). Cerita ini penulis peroleh saat diajak almarhum Adi Sasono sarapan bersama dengan Anwar Ibrahim di hotel Sultan pada tahun 2014, ini yang diungkapkan Anwar Ibrahim. Ketergesaan dan tidak membuat perencanaan strategis merupakan kelemahan utama pemimpin muslim. Erdogan telah melewatinya dengan tidak tergesa-gesa ( sabar ) dan membuat perencanaan yang matang, ini terbukti Partainya bisa bertahan sampai sekarang sebagai pemenang.

Maka dari itu, menjadi keniscayaan bagi seorang pemimpin untuk menguasai ilmu dan beriman. Semoga para pemimpin negeri ini termasuk golongan tersebut, dan menjadikan rakyatnya sejahtera dan berkemakmuran.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)--

(erd/erd)