Tetangga Nandya dan Hanif Dikirim ke Rumah Sakit
Jumat, 03 Mar 2006 01:08 WIB
Solo - Dua kakak beradik di Boyolali meninggal dunia dengan dugaan terinfeksi virus H5N1, penyebab flu burung. Seorang teman sekelas korban telah dikirim ke rumah sakit (RS) untuk diobservasi.Kini seorang tetangga dekat korban juga dikirim ke RS karena menderita gejala sakit yang sama dengan dua korban meninggal.AP, demikian inisial nama bocah berusia 15 tahun tersebut. Rumahnya tepat di belakang rumah Hanif Cahya Putri dan Nandya Kurniawan, di Karangkidul, Jurug, Mojosongo, Boyolali.Hanif dan Nandya adalah kakak-beradik yang meninggal dengan dugaan flu burung pada 28 Februari dan 1 Maret kemarin."Kami mengirim satu lagi pasien yang merupakan tetangga korban meninggal, ke RSUD Pandanarang, Boyolali. Sekarang baru dilakukan observasi tentang kemungkinan terjangkit flu burung," ujar Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial Pemkab Boyolali, Syamsuddin, kepada wartawan di Boyolali, Kamis (2/3/2006).Gejala awal yang diderita AP adalah panas badan tinggi dan muntah-muntah. Gejala ini sama persis dengan yang diderita oleh Hanif dan Nandya. Untuk lebih memberikan perlindungan yang memadai, AP dirawat di ruang isolasi rumah sakit."Jika nantinya kondisi AP semakin memburuk dan mengarah pada kemungkinan tertular flu burung, dia akan kami kirimkan ke RSUD dr Moewardi Solo sebagai rumah sakit rujukan dengan status pasien suspect flu burung," lanjutnya.Seperti diberitakan, kemarin Dinas Kesehatan dan Sosial Pemkab Boyolali juga mengirim teman sekelas Nandya berinisial MB ke RS dr Moewardi Solo. MB diketahui menderita flu berat disertai batuk lebih dari tiga hari sebelum dikirim ke rumah sakit.Tidak MeresahkanSementara itu Bupati Boyolali, Sri Moeljatno, mengatakan pihaknya serius menangani kasus flu burung di daerahnya apalagi telah jatuh korban yang merenggut dua jiwa manusia. Langkah yang diambil adalah penanganan terpadu melibatkan seluruh dinas terkait."Tapi penanganan terhadap flu burung yang kami lakukan sebisa mungkin menekan tindakan yang bisa berdampak meresahkan masyarakat. Sebab kalau sampai meresahkan berarti pekerjaan kami akan semakin berat, setidaknya dua kali lipat," kata dia.
(ddn/)











































