Ketua MPR Canangkan Kota Salatiga Jadi Kota 4 Pilar, Ini Alasannya

Yudistira Imandiar - detikNews
Kamis, 01 Apr 2021 12:20 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mencanangkan Kota Salatiga, Jawa Tengah menjadi Kota Empat Pilar. Bamsoet, sapaan akrabnya, menilai masyarakat Kota Salatiga menjunjung nilai-nilai Empat Pilar MPR RI dalam kehidupan sosial.

Dengan jumlah penduduk mencapai 192.322 jiwa, terdiri dari 95.025 laki-laki dan 97.297 perempuan, dihuni lebih dari 39 etnis, enam agama dan berbagai aliran kepercayaan, masyarakat Kota Salatiga dianggap telah mencerminkan pengamalan nilai Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI 1945), NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.

"Kota Salatiga merupakan salah satu kota yang sangat berkesan dalam hidup saya. Ayah saya lahir, besar, dan dimakamkan di Salatiga. Sejak kecil, saya turut mengalami suasana harmonis dalam kehidupan masyarakat Salatiga. Tidak berlebihan jika banyak yang menilai Kota Salatiga merupakan miniatur Indonesia, tempat bermuaranya warga pendatang dari berbagai daerah dengan latar belakang sosial dan budaya yang sangat beragam. Namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan sehingga menjadikannya sebagai 'city of harmony'," ujar Bamsoet di Pendopo Walikota Salatiga, Jawa Tengah, Rabu (31/3/2021).

Ketua DPR RI ke-20 ini menjelaskan, dalam laporan SETARA Institute tentang Indeks Kota Toleran (IKT) Tahun 2020, Kota Salatiga berada di peringkat pertama. Kota ini meraih nilai tertinggi pada lima dari delapan indikator penilaian. Adapun indikator penilaian meliputi rencana pembangunan, kebijakan diskriminatif, peristiwa intoleransi, dinamika masyarakat sipil, pernyataan publik pemerintah kota, tindakan nyata pemerintah kota, heterogenitas agama, dan inklusi sosial keagamaan.

"Ini menggambarkan etos kerja masyarakat Kota Salatiga yang tidak pernah puas dan terlena pada satu titik pencapaian. Tetapi, terus berupaya melakukan berbagai pembenahan dan perbaikan," sebut Bamsoet.

Ia menambahkan tingkat toleransi masyarakat Kota Salatiga terpantau meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2015, Kota Salatiga menduduki peringkat keempat Kota Paling Toleran. Selanjutnya tahun 2017 peringkat ketiga, dan tahun 2018 pada peringkat kedua.

"Suasana guyub antar kalangan masyarakat tercermin dalam keberadaan Alun-Alun Pancasila, di depan pendopo kantor Walikota Salatiga. Berkunjung ke sana, siapapun akan merasakan perasaan nyaman karena eratnya interaksi masyarakat tanpa memandang suku, agama, kepercayaan, ras, maupun golongan," ulas Bamsoet.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menerangkan menjadi kota paling toleran bukanlah hal yang mudah untuk dicapai. Menurutnya, membangun kebersamaan dalam keberagaman, mudah diwacanakan tetapi banyak tantangan dalam implementasinya. Bangunan kebersamaan yang tidak dilandasi akar kuat akan mudah terkoyak oleh berbagai rongrongan. Baik yang bersifat paham ideologi maupun tindakan yang dapat memecah belah persatuan.

"Kota Salatiga telah membuktikan dirinya bahwa perbedaan suku, agama, ras, golongan, maupun kepercayaan, bukanlah halangan untuk membangun persatuan. Kuncinya ada pada penanaman nilai dalam keluarga sebagai unit terkecil masyarakat. Dari Salatiga, kita berharap virus toleransi bisa semakin menyebar ke berbagai pelosok Nusantara," cetus Bamsoet.

(akn/ega)