NasDem: Bom Katedral Makassar Jadi Perdebatan, tapi Jangan Cocoklogi

Farih Maulana Sidik - detikNews
Rabu, 31 Mar 2021 16:49 WIB
Willy Aditya
Willy Aditya (Rahel/detikcom)
Jakarta -

Pakar terorisme Sidney Jones berbicara mengenai dugaan adanya obsesi pemerintah seolah-olah Front Pembela Islam (FPI) terkait dengan terorisme pascabom bunuh diri di Katedral Makassar. NasDem meminta pendapat mengenai aksi terorisme berdasarkan ilmiah, bukan sekadar 'cocoklogi'.

"Saya kira peristiwa bom (Katedral Makassar) kemarin sudah barang tentu akan menjadi medan perdebatan pendapat. Jadi apa yang disampaikan Sidney Jones harus kita lihat dalam kerangka demikian. Boleh saja setiap orang mengemukakan pendapat selama didukung dengan argumentasi ilmiah, bukan dengan cocoklogi apalagi hanya berdasarkan emosional," kata Wakil Ketua Fraksi NasDem DPR RI Willy Aditya kepada wartawan, Rabu (31/3/2021).

Willy menyebut peristiwa bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar masih menjadi duka masyarakat Indonesia hingga saat ini. Menurutnya, akan lebih baik jika semua pihak mendukung aparat penegak hukum untuk bekerja secara transparan dan bersandar pada hukum yang berlaku.

"Silakan pihak lainnya mengumpulkan argumentasi ilmiahnya agar dapat menjadi pertimbangan penegak hukum juga," ucapnya.

Legislator Senayan ini menilai semua orang akan menolak aksi teror yang dilakukan oleh siapa pun. Willy mengajak semua pihak memusatkan pikiran untuk membangun kekuatan untuk melawan aksi terorisme.

"Salah satu yang ditunggu dan sangat diharapkan oleh peneror adalah kekuatan kita yang terpecah, bahkan ribut di antara sesama kita," ujarnya.

"Kita melawan teror bersama-sama dengan menyatukan kekuatan dan potensi bersama. Perdebatan wacana jangan sampai justru memecah kita menjadi saling tuding dan membangun narasi kebencian yang justru diharapkan oleh teroris," tambahnya.

Simak selengkapnya, di halaman selanjutnya:

Pakar terorisme Sidney Jones sebelumnya berbicara mengenai dugaan adanya obsesi pemerintah seolah-olah FPI terkait dengan terorisme. Sidney menilai adanya dugaan itu berhubungan dengan peristiwa pembaiatan massal ke ISIS di Makassar pada 2015.

"Saya kira sekarang ini seperti ada obsesi pemerintah dengan FPI seolah-olah ini membuktikan bahwa FPI terkait terorisme. Sebetulnya, menurut bahwa beberapa orang, bukan beberapa, tapi ratusan orang Makassar, ikut satu program pembaiatan massal pada bulan Januari tahun 2015, jadi sudah lama ya. Dan pada waktu itu memang ada kolaborasi antara FPI dan Ustaz Basri dan Ustaz Basri yang menjadi pimpin dari pembaiatan itu," kata Sidney dalam dalam tayangan D'Rooftalk: 'Teror Bomber Milenial' di detikcom, Selasa (30/3).

Merespons hal itu, Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) Jaleswari Pramodhawardani menyerahkan pengusutan teroris kepada polisi. Dia meminta tidak ada upaya untuk membentuk opini publik.

"Hentikan pembentukan opini-opini konspirasi yang justru akan melemahkan upaya-upaya kita untuk bersama-sama memerangi teror," kata Jaleswari saat dihubungi, Selasa (30/3) malam.

Jaleswari mengatakan penyidik kepolisian akan membongkar aksi terorisme. Dia menegaskan bahwa aksi teror di Indonesia nyata adanya.

"Percayakan penyidikan untuk membongkar sel teror ke kepolisian. Aksi teror di Indonesia nyata, tercatat 552 serangan teror (2000-2021), sebagian besar berhasil dibongkar oleh kepolisian antara lain juga melalui mekanisme pengadilan yang terbuka," katanya.

(fas/rfs)