Teroris Kerap Salah Tafsirkan Dua Ayat dan Hadist Ini

Sudrajat - detikNews
Rabu, 31 Mar 2021 10:26 WIB
Jakarta -

[Gambas:Video 20detik]

Setidaknya ada dua surat dan ayat dalam al-QurĂ¡n serta hadis Nabi Muhammad SAW yang kerap disalahtafsirkan lalu menjadi pembenar untuk bersikap radikal hingga melakukan aksi terorisme. Kedua surat dimaksud menurut mantan Ketua Mantiqi III Jamaah Islamiah, Nasir Abas adalah Al-Baqarah ayat 191 dan Al-Maidah ayat 44.

Ayat 191 secara garis besar mengajarkan kepada kaum muslim untuk memerangi, mengusir, bahkan bila perlu membunuh kaum kafir di mana saja yang bisa dijumpai. Tapi konteks ayat tersebut adalah ketika dalam kondisi peperangan yang prinspinya, "Membunuh atau dibunuh".

"Ayat dalam surat itu Allah SWT mengajarkan kepada kaum muslim agar dalam peperangan jangan gamang. Jangan hanya diam, berpangku tangan. Tapi kejarlah musuh," kata Nasir Abas dalam program Blak-blakan di detikcom, Rabu (31/3/2021).

Celakanya, dia melanjutkan, oleh kelompok orang-orang tertentu karena hanya membaca terjemahan lalu menganggap Indonesia ini medan perang. Pemerintah, presiden, tentara, polisi, dan orang nonmuslim dianggap musuh.

Ini ditambah dengan hadis Rasulullah yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, bahwa "Aku diutus, diperintahkan untuk membunuh manusia sampai mereka bersyahadat."

Sepintas bunyi hadis tersebut menggambarkan sosok Nabi Muhammad yang sadis. Ingin menyiarkan Islam lewat peperangan dan darah. Padahal yang dimaksud di situ adalah hanya berlaku kepada orang-orang musyrik yang memerangi umat Islam, bukan semua orang musyrik.

Sebab ada beberapa hadits lain Rasulullah justru melarang untuk memerangi perempuan, anak kecil, pendeta, dan orang-orang yang lemah. Ada juga hadits lain yang menyatakan, "Aku diutus di muka bumi ini untuk menyempurnakan akhlak"

Kesalahkaprahan juga berlaku dalam memaknai surat Al-Maidah ayat 44 yang berbunyi, "Barangsiapa tidak memutuskan dengan apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir".

Akibatnya, kata Nasir Abas, semua nonmuslim dianggap musuh. Bahkan Presiden pun dianggap kafir karena dianggap tak menegakkan hukum Islam. "Orang muslim yang berbeda dengan dirinya pun dianggap kafir. Inilah paham takfiri, mudah mengkafirkan orang lain. tapi ini bukan hal baru, sudah ada sejak Nabi Muhammad wafat," papar Nasir Abas yang pernah memimpin Jamaah Islamiyah untuk kawasan Filipina, Kalimantan Timur, dan Sulawesi Selatan.

(jat/erd)