Kominfo: Kalau Ragu Itu Hoaks, Jangan Sebarkan!

Alfi Kholisdinuka - detikNews
Selasa, 30 Mar 2021 20:53 WIB
Close up of a computer keyboard with word of hoax on the red button
Foto: Getty Images/iStockphoto/CreativaImages
Jakarta -

Hoaks menjadi industri yang tidak kalah masifnya dengan virus komputer atau malware. Salah satu contohnya, hal ini bisa dilihat dari masih maraknya penyebaran hoaks seputar penanganan pandemi COVID-19 hingga vaksinasi di Tanah Air.

Tenaga Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika Donny Budi Utoyo bahkan mencatat apabila diambil rata-ratanya, ada 4-5 hoaks baru terkait COVID-19 yang beredar setiap hari dari Februari 2021 sampai sekarang.

"Hoaks yang terkait vaksinasi sekarang ada 150. Itu terhitung sejak Oktober 2020, sebarannya jauh lebih dahsyat lagi, tersebar pada 900 titik," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (30/3/2021).

Hal ini dia ungkapkan dalam Dialog Produktif bertema 'Hoaks Dilawan, Jangan Biarkan' yang diselenggarakan KPCPEN dan ditayangkan di FMB9ID_IKP.

Donny menyebutkan permasalahan hoaks ini tidak bisa diatasi satu pihak. Menurutnya penanganan hoaks harus komprehensif dari hulu ke hilir. Sebab, dalam konteks informasi ada istilah literasi digital yang perlu didorong.

"Sementara pasal-pasal itu ada di bagian bawah (hilir), itu pun upaya terakhir jika memang di hulu kita sudah berusaha semaksimal mungkin, yang perlu diutamakan adalah kerja kerja kolaboratif para pemangku kepentingan," terangnya.

Lebih lanjut, Donny menuturkan Kemkominfo sedang menjalankan program literasi digital salah satunya melalui program Siberkreasi. Program ini bertujuan untuk memberantas kabar bohong seputar COVID-19 dan informasi lainnya.

"Sepanjang 2021 kita menargetkan 12,5 juta orang untuk mendapatkan pemahaman literasi digital, salah satunya melawan hoaks," tuturnya.

Lewat program tersebut, Donny menekankan agar strategi komunikasi untuk mencegah hoaks di kalangan masyarakat didukung semua kalangan. Semua pihak baik tokoh masyarakat maupun tokoh agama harus terlibat bahu-membahu memberantas kabar bohong.

"Kita semua yang punya gadget adalah prajurit-prajurit perang untuk melawan hoaks. Sehingga daripada kita mengutuk gelap lebih baik kita menyalakan lilin. Maksudnya kalau kita ragu itu hoaks, jangan kita sebarkan," jelasnya.

Sementara itu, Ketua Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Septiaji Eko Nugroho mendukung upaya tersebut. Sebab, isu COVID-19 ini diikuti semua kalangan, berbeda dengan isu politik dan pemilu 2019, tidak semua masyarakat mengikutinya.

"Proses ini perlu waktu untuk membangun pemahaman masyarakat yang kuat. Literasi digital ini memang proses yang panjang, hasil dari literasi digital mungkin bisa dirasakan 5 - 10 tahun ke depan," pungkasnya.

(prf/ega)