Dialog Antariman Indonesia-Belanda (3)
Menteri Van-Ardenne: Dunia Memerlukan Bhinneka Tunggal Ika
Kamis, 02 Mar 2006 16:31 WIB
Den Haag - Di era globalisasi, dunia serasa desa kecil. Kita semua adalah tetangga. Keragaman berpotensi menjadi konflik. Dunia kini memerlukan falsafah bhinneka tunggal ika.Hal itu disampaikan Menteri Kerjasama Pembangunan Belanda, Anna Maria Agnes van Ardenne-van der Hoeven pada konferensi dua hari, Dialog Antariman Indonesia-Belanda, yang digelar di KBRI Den Haag 28/2-1/3/2006. Menurut Van Ardenne, yang rela mengorbankan waktu libur musim seminya karena menyambut baik inisiatif pemerintah Indonesia, hubungan antarnegara, bisnis, dan orang, kini telah mengalami perubahan sangat mendasar akibat revolusi komunikasi. Dunia kini cuma satu klik mouse saja. Setiap tahunnya bahkan volume internet semakin berlipatganda. "Dalam dunia kita yang semakin kecil, kita semua adalah tetangga satu sama lain. Belajar bagaimana hidup bersama dalam Desa Global adalah tantangan terbesar di zaman kita kini," kata Van Ardenne.Van Ardenne lalu menyodorkan falsafah bangsa Indonesia, bhinneka tunggal ika, yang dinilainya ternyata sangat relevan dengan era global sekarang. Dalam kondisi dunia saat ini, kata Van Ardene, konsep dan semangat seperti bhinneka tunggal ika diperlukan dalam dialog permanen antarberbagai macam kebudayaan dan keyakinan. "Kita tidak memerlukan debat, sebab dalam debat selalu ada pihak yang menang dan kalah. Yang kita perlukan adalah dialog sejati, di mana kita tidak hanya membicarakan pendapat kita saja tetapi juga mendengarkan pihak lain secara seksama, sehingga yang ada adalah semua menang," tandasnya.Dengan begitu, lanjut Van Ardenne, barulah bisa dicapai saling pengertian dan hormat-menghormati satu sama lain, suatu hal yang esensial untuk hidup berdampingan secara damai. Menteri dari partai Christen Democratisch Appel CDA itu mencontohkan perkembangan kehidupan di dalam negerinya sendiri, yang dinilainya cukup mengundang keprihatinan. Beragam perbedaan kebudayaan di Belanda tidak hidup dengan satu sama lain, melainkan bersimpang satu sama lain. "Kami beranjak dari satu ekstrimitas ke ekstrimitas lain. Dari atitut semua bisa bersama-sama bergeser menjadi cara saya adalah satu-satunya cara," ujar menteri berlatar belakang Katolik Roma ini.Van Ardenne secara terbuka menyebut konferensi yang digelar KBRI Den Haag sebagai contoh yang baik. Konferensi memilih tema dialog antariman atau keyakinan, bukan antaragama, sehingga bisa merangkul keyakinan lainnya yang berbeda. Ia yakin dialog antarkeyakinan ini dapat memberi sumbangsih dan kesungguhan untuk menuju dunia yang damai. "Agar setelahnya masing-masing tidak tetap terkungkung dengan jalannya sendiri-sendiri," demikian Van Ardenne.
(es/)











































