Kematian Gajah, Riau Peringkat Satu Dunia
Kamis, 02 Mar 2006 15:01 WIB
Pekanbaru - Riau punya 'prestasi' baru: peringkat satu kematian gajah. Untuk tahun 2005, ada 39 ekor gajah mati di berbagai lokasi di Riau. Sedangkan tahun 2006 sudah enam ekor gajah yang mati. Aktivis WWF Riau, Nurchalis Fadli mengungkapkan hal itu kepada detikcom, Kamis (02/03/2006). Menurut Fadli, sejak tahun 2005 hingga Februari 2006, total gajah mati akibat konflik mencapai 45 ekor. Kondisi itu mengantarkan konflik antara manusia dan gajah di Riau tertinggi di dunia. "Angka kematian gajah di Riau sangat luar biasa. Penyebab utamanya, habitat gajah sudah beralih fungsi menjadi perkebunan dan perkampungan penduduk. Kondisi itu menimbulkan konflik yang berkepanjangan," kata Fadli. Data WWF pada tahun 2004 silam, diperkirakan gajah di Riau tersisa antara 350 sampai 450 ekor. Padahal, data BKSDA tahun 2000 silam, populasi gajah masih di atas 750 ekor yang menyebar di berbagai kabupaten di Riau. Kematian gajah-gajah liar itu, kata Fadli, disebabkan berbagai faktor. Sebagian bear gajah-gajah itu mati karena memakan racun yang sengaja disebarkan warga di perkebunan kelapa sawit, sebagian lagi karena perburuan liar. "Tapi angka kematian lebih banyak karena diracun. Alasan warga, gajah itu merusak tanaman mereka," kata Fadli. Sebenarnya konflik tidak akan terjadi bila habitat gajah tidak beralih fungsi. Gajah memerlukan areal seluas 400 hektar untuk jelajah hidupnya. Dalam kurun waktu enam bulan atau setahun, gajah akan kembali ke titik awalnya. "Nah saat kembali ke titik awalnya ini, wilayah jelajahnya sudah banyak yang beralih fungsi baik jadi perkebunan sawit atau pun perkampungan. Inilah yang menimbulkan konflik antara manusia dan gajah," kata Fadli. Kasus terakhir adalah matinya enak ekor gajah di Kabupaten Rokan Hulu-Riau yang berbatasan dengan Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut. WWF juga menduga kematian ini terkait adanya racun yang sengaja diberikan di lokasi perkebunan sawit. Di wilayah perbatasan itu, diperkirakan populasi gajah mencapai 50 ekor. Kabupaten Rokan Hulu termasuk daerah yang paling sering terjadi konflik gajah. Ini belum lagi adanya perburuan liar khusus mengambil gading gajah. "Gajah di kabupaten Rokan Hulu berkeliaran di perkebunan dan perkampungan, karena rusaknya hutan Lindung Mahato. Hutan lindung itu kini tidak tersisa lagi. Kawasan yang semestinya dilindungi berubah menjadi perkebunan sawit," kata Fadli.
(asy/)











































