Gajah Liar di Riau Masih Menyerang Rumah Penduduk

Gajah Liar di Riau Masih Menyerang Rumah Penduduk

- detikNews
Kamis, 02 Mar 2006 14:34 WIB
Pekanbaru - Puluhan gajah liar di Riau masih melakukan pengrusakan rumah penduduk Desa Balai Raja, Kecamatan Duri, Kabupaten Bengkalis. Penyebabnya, hutan marga satwa Balai Raja yang sebelumnya seluas 16 ribu hektar di sekitar desa itu menyusut drastis menjadi 200 hektar akibat pengalihfungsian lahan. Aktivis WWF Riau, Nurchalis Fadli mengungkapkan hal itu saat dihubungi detikcom, Kamis (2/3/20006). Fadli yang berada di lokasi konflik gajah dengan manusia menjelaskan, hingga Rabu (1/3/2006) malam, sekitar 15 ekor gajah liar masih memasuki perkampungan berpenduduk sekitar 300 KK. "Dalam sepekan ini sudah 13 rumah penduduk hancur diserang gajah. Sampai sekarang setiap malam ratusan warga mengungsi di Balai Desa. Malam kami bersama warga melakukan penjagaan agar gajah tidak merusak rumah penduduk lagi," kata Fadli. Kondisi konflik di lokasi itu, lanjut Fadli, sudah pada tahap yang berbahaya. Sejauh ini belum ada tindakan pengamanan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) serta Dinas Kehutanan yang paling bertanggung jawab atas terjadinya konflik ini. "Sudah sepekan ini penduduk ketakutan akan serangan gajah, tapi pemerintah belum mengambil tindakan apa pun. Padahal yang paling bertanggung jawab adalah BKSDA dan Dinas Kehutanan. Minimal mereka melakukan tindakan awal dengan memberikan pengamanan kepada penduduk," kata Fadli. Di lokasi itu diperkirakan ada sekitar 50 ekor gajah liar. Gajah-gajah ini sebenarnya berasal dari hutan marga satwa Balai Raja. Namun kondisi hutan itu kini sudah porak-poranda dengan maraknya aktivitas illegal logging yang dialihfungsikan menjadi perkebunan sawit. Kini hutan marga satwa hanya tersisa 200 hektar lagi. "Kondisi sekarang ini ibarat buah simalakama. Gajah tidak diusir, ada korban manusia. Diusir secara paksa, gajah juga sudah tidak memiliki habitatnya. Kami meyakini gajah-gajah ini kelaparan sehingga masuk perkampungan penduduk. Kalau kita paksa mengusirnya, gajah juga akan stres. Jadi memang serba salah," kata Fadli. Solusi yang harus segera dilakukan pemerintah, kata dia, secepat mungkin memberikan areal hutan untuk habitat gajah. Salah satu yang ditawarkan WFF Riau adalah kawasan Taman Nasional Tesso Nilo. Saat ini luas lahan konservasi itu hanya 38 ribu hektar. Kondisi itu sangat tidak sebanding apabila gajah liar di Riau direlokasi ke Tesso Nilo. "Kami berharap, dari luas 38 ribu hektar itu, pemerintah pusat bisa menambah kembali sampai 100 ribu hektar. Dengan adanya perluasan taman nasional itu, kita harapkan gajah liar bisa kita relokasi ke sana. Kalau tidak, konflik ini tidak akan pernah berakhir," kata Fadli. (asy/)


Berita Terkait