Sampah Plastik PET Transparan Diincar Industri Daur Ulang

Erika Dyah Fitriani - detikNews
Senin, 26 Apr 2021 20:13 WIB
sampah plastik
Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Plastik merupakan salah satu barang yang digunakan secara masif di seluruh dunia. Berdasarkan data yang dijelaskan Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah ITB, Prof. Enri Damanhuri, penggunaan plastik di Indonesia pada 2019 mencapai 5,6 juta ton per tahun.

Enri menyampaikan kebutuhan plastik di suatu wilayah bergantung pada industri pengguna plastik itu sendiri. Ia mengungkap ada grafik yang menggambarkan sebagian besar plastik yang digunakan di Indonesia digunakan untuk mengemas makanan dan minuman, jumlahnya mencapai 48%. Sementara sisanya, digunakan untuk berbagai kebutuhan lain seperti kebutuhan pipa, konstruksi, pertanian, dan lain sebagainya.

Meski kebutuhannya beragam, Enri menjelaskan ada jenis-jenis plastik yang selalu difavoritkan industri.

Lebih lanjut, Enri menyampaikan plastik memiliki sifat yang berbeda dari kaca dan besi yang bisa terus didaur ulang. Ia menjelaskan satu atau dua kali olahan sudah dapat mengubah sifat dari plastik, apapun teknologi yang digunakannya. Ia menilai hal ini menjadi persoalan utama sebab sifat plastik jika terus menerus didaur ulang dapat menurunkan kualitasnya."Sudah terkenal plastik itu yang dicari itu PET (polyethylene terephthalate), nomor dua berjenis PE (polyethylene), karena PE itu bisa juga ada di botol gelas minuman atau pembungkus, kemudian PP (polypropylene), kemudian yang tidak laku ya di luar itu. Mungkin saja di antara plastik yang tidak laku itu adalah plastik yang sudah secondary atau tertiary yang mungkin tidak bisa didaur ulang lagi," jelas Enri dalam Webinar Sprite #LihatDenganJernih dengan tema "Potensi Cuan Botol Bekas Pakai" yang berlangsung virtual di detikcom, Senin (29/3/2021).

Enri menyebutkan beberapa jenis plastik kerap menjadi idola bagi industri daur ulang salah satunya jenis plastik PET transparan. Plastik yang jernih memiliki nilai lebih tinggi karena fleksibilitas penggunaanya dalam daur ulang juga lebih tinggi.

Hal senada juga diserukan oleh Ketua Umum Ikatan Pemulung Indonesia (IPI), Pris Polly Lengkong yang menyebutkan perbedaan harga signifikan antara plastik PET jernih atau transparan dengan plastik PET berwarna.

"Nilai dari PET berwarna dan PET jernih itu sangat jauh. Kalau dari pemulung saat ditimbang di pelapak kalau tercampur dengan yang berwarna itu harganya sekitar Rp1.800 sampai Rp2.200, tapi kalau ambil yang jernih atau transparan Rp3.500 sampai Rp4.000. Ini kan signifikan. Banyaknya plastik PET transparan bukan hanya menolong para pemulung yang jadi ujung tombak ekosistem daur ulang, tapi juga menolong pelapak," ujar Pris.

Sementara itu, Director of Public Affairs, Communication, and Sustainability PT Coca-Cola Indonesia, Triyono Prijosoesilo menjelaskan sejalan dengan visi global World Without Waste, pihaknya terus berupaya mengurangi limbah dengan merancang kemasan yang dapat didaur ulang.

Selain itu, mengumpulkan dan mendaur ulang 100% produk yang pihaknya jual pada tahun 2030, juga bermitra dengan berbagai organisasi yang dapat membantu menemukan solusi-solusi terbaik untuk mewujudkan upaya tersebut.

Triyono mengungkapkan Coca-Cola telah melakukan transformasi pada kemasan botol Sprite yang selama ini dikenal dengan botol hijau ikoniknya menjadi botol PET jernih yang lebih mudah untuk didaur ulang.

Diketahui, inovasi terbaru dari Sprite ini membawa Coca-Cola selangkah lebih dekat untuk mewujudkan visi World Without Waste yang memiliki 3 pilar strategi yaitu design, collect, dan partner. Langkah perubahan kemasan Sprite ini merupakan perwujudan dari salah satu bagian 3 pilar strategi yaitu pilar Design.Ia mengatakan upaya transformasi kemasan PET jernih yang berorientasi pada daur ulang ini tak hanya dilakukan oleh Sprite di Indonesia, tapi juga di seluruh dunia.

"Ternyata, fakta di lapangan botol PET itu sendiri memang jenis plastik yang banyak dicari, nilainya cukup tinggi di antara pemulung jadi memang itu dicari. Yang kita lihat juga, antara botol PET berwarna dan jernih harganya jauh lebih tinggi yang jernih. Karena ternyata botol PET jernih kalau didaur ulang itu lebih fleksibel penggunaannya. Yang transparan atau tidak berwarna itu lebih mudah untuk diolah sehingga lebih fleksibel dan lebih banyak dicari," kata Triyono.

Triyono menyebutkan transformasi ini tak hanya berupaya untuk menyelesaikan masalah limbah sampah plastik yang menumpuk di Indonesia, tapi juga turut membantu menciptakan ekosistem daur ulang agar upaya menjadi solusi dari permasalahan sampah plastik bisa berjalan secara berkelanjutan.

"Fakta ini menarik buat kita, sehingga kita lihat ini menjadi langkah strategis untuk memudahkan agar botol-botol PET ini gampang dikumpulkan dan gampang didaur ulang sehingga value-nya meningkat dan bisa membantu juga bagi teman-teman pemulung yang mengambil," lanjutnya.

Sebagai informasi, webinar ini juga dihadiri oleh Senior Brand Manager PT Coca-Cola Indonesia, Fitriana Adhisti dan Pendiri PlusTik, Reza Hasfinanda.

(prf/ega)