Kemlu Diminta Beri Nota Keprihatinan Kekerasan Rasial Anti-Asia di AS

Nurcholis Ma'arif - detikNews
Sabtu, 27 Mar 2021 12:58 WIB
Ahmad Basarah
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah menyesalkan terjadinya kekerasan rasial anti-Asia di Amerika Serikat (AS) yang semakin meningkat. Menurutnya, ini menegaskan kekerasan dan sentimen anti-Asia di sana tidak terlepas dari agresivitas kebijakan luar negeri AS terhadap Asia selama 4 tahun pemerintahan Trump yang singkat.

Untuk itu, Ketua Bidang Luar Negeri DPP PDI Perjuangan mendesak agar Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI segera menyampaikan nota keprihatinan kepada AS atas kekerasan rasial ini. Ia juga meminta pemerintah AS melakukan upaya nyata untuk menghentikan kekerasan rasial yang tengah berlangsung.

Tidak lupa Basarah juga menitipkan agar Kemlu melindungi segenap WNI yang ada di AS. Lebih lanjut Basarah menyatakan bahasa diplomasi yg dipakai AS selama 4 tahun pemerintahan Trump kurang elegan dan terkesan blatant, serta banyak melukai negara-negara Asia.

Menurutnya, AS juga terkesan sering melakukan tindakan sepihak yang tidak mencerminkan norma diplomasi andal sebagai negara super power, antara lain menyatakan COVID-19 adalah Kung-flu/Chinese Virus, menyatakan dalam debat terbuka bahwa udara India kotor, menghentikan secara sepihak proliferasi nuklir Iran dan kesepakatan Paris dan lain-lain.

Hal ini menurutnya menyulut sentimen superioritas kulit putih di AS dan berujung pada tindak kekerasan rasial terhadap warga keturunan Asia yang dianggap menggeser dominasi kulit putih.

"Amerika adalah kiblat hak asasi manusia, demokrasi dan anti diskriminasi bagi dunia. Amerika dianggap negara yang sempurna sebagai melting pot bangsa bangsa di dunia," ujar dia dalam keterangannya, Sabtu (27/3/2021).

"Tidak ada satu bangsa pun yang berhak mengklaim sebagai warga asli AS. Warga kulit putih Eropa di AS bukanlah warga asli AS. Nenek moyang mereka masuk sebagai kolonialis yang merebut tanah Amerika dari bangsa Indian," jelasnya.

Menurut Basarah, AS kini adalah negara yang dibangun oleh keringat berbagai bangsa dunia. Termasuk warga keturunan Asia.

"Jadi ketika kekerasan rasial abad 21 terjadi di AS maka runtuhlah bangunan kepercayaan warga dunia terhadap demokrasi, hak asasi manusia, dan prinsip anti-diskriminasi AS. Sebuah harga yang mahal untuk dibayar," ujarnya.

"AS akan kehilangan kepercayaan dunia dan tidak layak lagi menjadi polisi dunia yang sering menekan negara lain atas dasar hak asasi manusia, anti-diskriminasi dan demokrasi. AS harus mulai berkaca pada negaranya sendiri sebelum mulai menghakimi negara lain," tandas Basarah.

Ia mengutip media internasional yang memberitakan kasus kekerasan verbal maupun fisik berbau rasial terhadap orang-orang Asia-Amerika terus meningkat di sejumlah wilayah di AS. Kelompok advokasi bernama Stop AAPI Hate mengaku menerima hampir 3.800 laporan insiden kebencian dan kekerasan sepanjang setahun ini yang ditujukan pada orang Asia-Amerika secara nasional di AS. Angka ini belum termasuk kejadian yang tidak dilaporkan.

Lalu Dewan Perencanaan Kebijakan Asia Pasifik AS, sejak Maret-Mei 2020, melaporkan lebih dari 800 insiden kebencian terkait COVID-19 dilaporkan dari 34 kabupaten di negara bagian California, AS. Sejumlah masyarakat Indonesia di AS juga dilaporkan cemas dengan meningkatnya kasus-kasus rasialis pada keturunan Asia-Amerika.

Basarah menyatakan bahwa Indonesia dapat belajar banyak dari kekerasan anti-Asia di AS. Indonesia juga merupakan melting pot berbagai suku bangsa, ras dan agama. Mereka adalah pondasi bangunan negara Indonesia.

Mereka masing-masing telah berkontribusi dan memberikan darma baktinya bagi Indonesia. Tidak perlu satu pihak mengklaim lebih berjasa dari yang lainnya. Jika Indonesia tidak bersatu maka bangunan negara ini akan runtuh dan tercerai berai.

Lihat juga Video "Kekhawatiran Mark Tuan GOT7 soal Anti Asia di AS":

[Gambas:Video 20detik]





Simak Video "Kekhawatiran Mark Tuan GOT7 soal Anti Asia di AS"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)