Simak! Kebijakan BOS dan Dana Alokasi Khusus Fisik di 2021

Inkana Putri - detikNews
Jumat, 26 Mar 2021 21:23 WIB
SD Negeri di Klaten mulai melakukan ujicoba pembelajaran tatap muka untuk penilaian akhir semester  (PAS) 2020 dan sosialisasi protokol COVID, Selasa (1/12). Untuk tahap awal per kecamatan hanya boleh maksimal lima sekolah dan akan dievaluasi untuk persiapan masuk sekolah Januari 2021.
Foto: Achmad Syauqi
Jakarta -

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah mengumumkan kebijakan skema penyaluran Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik tahun 2021.

Sekretaris Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kemendikbud Sutanto mengungkapkan mekanisme penyaluran dana BOS langsung ke sekolah sejak tahun lalu menerima tanggapan positif. Selain itu, skema ini juga telah mengurangi tingkat keterlambatan dana sekitar 32 persen atau tiga minggu lebih cepat dibandingkan tahun 2019.

"Sejak 2020 anggaran BOS sudah berbeda dengan tahun sebelumnya. Kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan adalah agar anggaran BOS bisa disalurkan langsung ke sekolah. Tujuannya agar sekolah tidak terlambat menerima dana BOS. Untuk tahun 2021 ini, dana BOS diberikan berdasarkan jumlah siswa dikalikan biaya per satuan pendidikan dan disesuaikan dengan tingkat kemahalan per kabupaten/kota," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (26/3/2021).

Hal tersebut ia sampaikan dalam Dilaog Publik 'Kebijakan BOS Reguler dan DAK Fisik Untuk Peningkatan Mutu Operasional Sekolah' yang digelar oleh KPCPEN hari ini. Soal indeks kemahalan, Sutanto menjelaskan indeks tersebut sesuai dengan kemahalan konstruksi yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS).

Lebih lanjut Sutanto menjelaskan untuk pemanfaatan BOS tahun ini, pemerintah menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada sekolah atas segala pengeluaran sekolah. Hal ini mengingat selama pandemi sekolah dipaksa untuk beradaptasi. Dalam hal ini, dana BOS dapat digunakan oleh para pendidik untuk memberikan pelayanan terbaik kepada siswa-siswinya.

"Kebijakannya dibuat fleksibel sehingga tidak ada batasan penggunaan, bisa digunakan untuk peningkatan kompetensi guru, pengadaan sarana prasarana, untuk membayar jasa listrik, telepon, air, dan internet sekolah," terangnya.

Meskipun demikian, Susanto menyebut pembelajaran yang paling efektif memang pembelajaran tatap muka. Namun, di tengah kondisi ini ia meminta agar para kepala sekolah dan guru dapat memanfaatkan dana BOS sebagai penunjang pembelajaran jarak jauh.

"Pesan kami kepada kepala sekolah dan guru-guru di seluruh Indonesia, kami mohon dana BOS dan DAK Fisik dimanfaatkan sebaik-baiknya dan mengikuti petunjuk teknis yang sudah ada, serta dimaksimalkan dalam rangka operasional dan meningkatkan pembelajaran di sekolah," ungkapnya.

Di sisi lain, Kepala SMP Negeri 1 Salatiga, Hariyati mengatakan skema penyaluran BOS 2021 membantu pihak sekolah dalam mengatur penggunaan dana. Dengan demikian, sekolah tetap dapat mewujudkan pendidikan yang baik selama pandemi.

"Petunjuk teknis (Juknis) BOS 2021 sangat membantu sekolah di masa pandemi untuk mewujudkan pendidikan yang baik sementara sekolah-sekolah dituntut pembelajaran jarak jauh (PJJ). Cara berpikir kita harus cerdas dalam mengatur dana BOS yang ada," tuturnya.

Dalam prakteknya, Hariyati mengatakan pihaknya menggunakan dana BOS untuk membeli tablet dan meningkatkan sarana serta prasarana sekolahnya. Menurutnya, hal ini dapat membantu siswa yang terhambat mengikuti pembelajaran jarak jauh (PJJ).

"Bagi siswa kami yang mengalami hambatan sarana dan prasarana melakukan PJJ, kami pinjamkan perangkat tablet kami yang pengadaannya berasal dari BOS," katanya.

Selain itu, Hariyati juga memanfaatkan dana BOS untuk meningkatkan kompetensi guru selama PJJ berlangsung saat pandemi

"Karena kita harus bisa memberi pelajaran lebih menarik lewat PJJ ini. Kami menciptakan metode yang menarik agar siswa tidak bosan di rumah," ungkapnya.

Terkait hal ini, ia berharap agar program pemerintah dapat terus meneruskan program yang mendukung sistem pendidikan.

"Harapan kami program-program yang sudah diluncurkan Kemendikbud sudah sangat baik dan mohon dilanjutkan, sehingga menghasilkan siswa-siswi yang berkualitas, sistem pelaporan penggunaan dan BOS secara online juga sudah memudahkan kami," ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, Hariyati juga mengatakan pihaknya telah melakukan simulasi pembelajaran tatap muka terbatas. Terlebih saat ini Kemendikbud, Kementerian Agama, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Dalam Negeri telah merencanakan opsi pelajaran tatap muka (PTM) terbatas.

Namun, hal ini tentunya dilakukan dengan memperhatikan kondisi pandemi dan menegakkan protokol kesehatan yang ketat dan setelah guru dan tenaga pendidik menjadi prioritas vaksinasi pada tahap kedua.

"Di tempat kami juga saat ini sudah diadakan simulasi pembelajaran tatap muka terbatas, dan simulasi sudah berjalan dengan lancar karena kami menjalankan protokol kesehatan baik dari rumah sampai di sekolah dan pulang kembali ke rumah, kami pun akan menggabungkan tatap muka dan virtual apabila orang tua tidak mengizinkan anak-anak mereka tatap muka," pungkasnya.

(akn/ega)