Ketua DPD Dorong BPOM Lakukan Uji Klinis Vaksin untuk Batita

Inkana Putri - detikNews
Jumat, 26 Mar 2021 16:14 WIB
DPD
Foto: DPD
Jakarta -

Ketua DPD RI, AA La Nyalla Mahmud Mattalitti mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk melakukan uji klinis penggunaan vaksin COVID-19 untuk bayi di bawah usia tiga tahun (batita).

Pasalnya, mantan Ketua Umum PSSI ini mengatakan belum mendapatkan informasi terkait hasil uji klinis penggunaan vaksin untuk batita.

"Anak-anak adalah subjek yang cukup rentan dengan sistem imunitas dan kekebalan tubuh yang belum stabil. Sehingga pemberian vaksin untuk anak-anak adalah suatu keniscayaan. Tetapi juga harus diperhatikan melalui uji klinis agar vaksin aman setelah menginjak usia dewasa nanti," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (25/3/2021).

Terkait hal ini, La Nyalla pun mendorong pemerintah agar segera melakukan uji klinis. Menurutnya, saat ini fasilitas serta sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki telah cukup mumpuni untuk melakukan hal tersebut.

Bahkan, alumnus Universitas Brawijaya Malang ini menyebut uji klinis vaksin terhadap anak-anak saat ini juga telah dilakukan di beberapa negara.

"Jika tidak dimulai, kita tidak akan berani melakukan uji klinis. Padahal di luar negeri Pfizer melakukan uji klinis vaksin untuk anak-anak 11 tahun ke bawah. BiNTech juga uji klinis untuk kelompok anak 12 hingga 15 tahun. Sedangkan AstraZeneca untuk anak yang lebih kecil dari itu," paparnya.

Lebih lanjut Senator Dapil Jawa Timur ini menyampaikan uji klinis merupakan hal penting bagi batita. Terlebih anak-anak menjadi salah satu populasi yang besar di Indonesia

"Setiap tahun 4,8 juta anak lahir. Tentu anak-anak ini harus dilindungi dari bahaya COVID-19," tegasnya.

Sebagai informasi, sebelumnya, Juru bicara vaksinasi COVID-19 dari BPOM Lucia Rizka Andalusia membuka opsi untuk melakukan uji klinik penggunaan vaksin kepada batita. Namun, hingga saat ini belum ada hasil uji klinis yang dapat memastikan bahwa vaksin aman digunakan bagi batita. Adapun penelitian terakhir vaksin terhadap batita baru sampai di fase dua dan belum memiliki hasil.

(ega/ega)