Eksepsi Mengetuk Pintu Langit: Ada Operasi Intelijen di Balik Kasus HRS

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 26 Mar 2021 14:45 WIB
Sidang pembacaan eksepsi habib rizieq
Foto: dok. pengacara Habib Rizieq
Jakarta -

Habib Rizieq Shihab didakwa melakukan penghasutan sehingga menimbulkan kerumunan di Petamburan yang dianggap melanggar aturan mengenai pandemi virus Corona (COVID-19). Dalam eksepsinya, tim pengacara Habib Rizieq mengatakan adanya kriminalisasi terhadap Habib Rizieq tidak lepas dari bagian operasi intelijen berskala besar.

Awalnya tim pengacara Habib Rizieq berbicara terkait gerakan 212 yang fenomenal karena disorot nasional hingga internasional. Namun Habib Rizieq dan gerakannya dituduh macam-macam dengan stigma anti-Pancasila, anti-Bhinneka Tunggal Ika, dan anti-NKRI.

"Habib Rizieq Shihab dikriminalisasi dan gerakannya coba dipadamkan dengan berbagai cara agar para antek 'Aseng' dan asing tetap nyaman menjajah dan menjarah harta kekayaan NKRI. Oleh karena itu, bagi pribumi Indonesia yang sadar akan hal ini, gerakan 212 telah membangkitkan semangat pribumi untuk memerdekakan kembali negeri ini untuk yang kedua kalinya setelah melihat aset-aset strategis NKRI telah jatuh kembali ke tangan para VOC baru yang direpresentasikan oleh kaum oligark dan rezim zalim, dungu, dan pandir di NKRI," kata tim pengacara Habib Rizieq membacakan eksepsinya dalam sidang di PN Jaktim, Jakarta Timur, Jumat (19/3/2021).

Dalam eksepsinya, tim pengacara Habib Rizieq juga memaparkan upaya kriminalisasi terhadap kliennya justru merupakan bagian dari operasi intelijen berskala besar.

"Bila dilihat dari apa yang diperjuangkan oleh Habib Rizieq Shihab dan kawan-kawan, sebagaimana yang dialami oleh Proklamator Ir Sukarno seperti riwayat yang kami kutipkan di atas, jelas bahwa kriminalisasi Habib Rizieq Shihab dalam perkara a quo tidak lepas dan merupakan bagian dari operasi intelijen berskala besar (OIBB) oleh rezim zalim, dungu, dan pandir," kata tim pengacara Habib Rizieq.

Operasi intelijen berskala besar ini terdiri dari :
1. Operasi black propaganda terhadap Habib Rizieq Shihab dan FPI;
2. Operasi Kontra narasi terhadap Habib Rizieq Shihab dan FPI;
3. Operasi pencegahan kepulangan Habib Rizieq Shihab dari Saudi walau gagal mencegah Habib Rizieq Shihab pulang tapi berhasil menghambat dan mengganggu kepulangan sehingga membutuhkan waktu 3,5 tahun baru Habib Rizieq Shihab bisa pulang;
4. Operasi penggalangan tokoh masyarakat dan tokoh agama di berbagai provinsi untuk menolak keberadaan Habib Rizieq Shihab dan FPI;
5. Operasi konyol penurunan baliho di berbagai tempat oleh aparat yang bukan tupoksinya;
6. Operasi konyol mengerahkan komando operasi khusus hanya sekadar untuk membunyikan sirene di Petamburan;
7. Operasi pembantaian pengawal Habib Rizieq Shihab; dan
8. Operasi surveillance dan penjejakan terhadap Habib Rizieq Shihab sehari 24 jam, seminggu 7 hari, sebulan 30 hari, setahun 365 hari.

Tim pengacara Rizieq menilai perkara Habib Rizieq adalah politik dan merupakan bentuk lanjutan dari operasi intelijen berskala besar. Lebih lanjut tim pengacara Habib Rizieq menilai proses persidangan tersebut tidak sesuai dengan locus dan delicti peristiwa tindak pidana.

"Bukti paling nyata bahwa persidangan ini adalah lanjutan dari operasi intelijen berskala besar adalah persidangan tidak dilakukan sesuai dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. Yaitu, persidangan tidak dilakukan pada locus delicti peristiwa yang didakwakan, pasal-pasal yang didakwakan mengarah pada pasal-pasal dengan ancaman yang bermotif politik seperti penerapan Pasal 10 dan 35 KUHP serta pasal-pasal selundupan lainnya, persidangan dilakukan melalui sidang elektronik, padahal tidak ada satu pun UU yang membolehkan," ujarnya.

"Penerapan pasal yang tidak pada tempatnya, penambahan pasal-pasal yang terus terjadi untuk memperberat ancaman hukuman dan pasal-pasal yang bisa digunakan hanya agar Habib Rizieq Shihab bisa ditahan selama mungkin karena ada agenda politik yang menghendaki," ungkap tim pengacara Rizieq.

Simak video 'Sidang Kerumunan, Pengacara Ungkap Isi Eksepsi Habib Rizieq':

[Gambas:Video 20detik]