Asosiasi Minuman Ringan Sayangkan Hoaks Bahaya BPA dalam Galon

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Jumat, 26 Mar 2021 13:43 WIB
Ilustrasi Galon Air Mineral
Foto: shutterstock
Jakarta -

Belakangan beredar isu terkait keamanan Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) galon yang digunakan secara berulang. Dalam informasi itu disebutkan kandungan Bisfenol A atau BPA pada kemasan galon AMDK bisa berdampak buruk dan berbahaya bagi kesehatan.

Merespons hal tersebut Ketua Asosiasi Industri Minuman Ringan (ASRIM), Triyono Pridjosoesilo menyampaikan kekecewaannya dan menyayangkan perbuatan pihak tidak bertanggung jawab yang menyebarkan hoaks. Dia menilai, aturan pemerintah terkait standar keamanan pangan sudah ketat, sehingga mampu menjamin keamanan pangan masyarakat.

"Industri minuman dalam wadah ASRIM juga sangat memperhatikan isu keamanan pangan ini, dan terus melakukan komunikasi dan berkoordinasi intensif dengan BPOM agar produk-produk kami dapat comply dengan aturan-aturan yang ditetapkan oleh BPOM," katanya dalam keterangan tertulis yang dikutip Jumat, (26/3/2021).

Ia mengatakan pihaknya sangat bergantung kepada BPOM sebagai lembaga otoritas yang mengatur keamanan makanan dan minuman yang beredar di masyarakat. Menurutnya, BPOM selaku badan resmi pemerintah yang diberi kewenangan untuk menjaga keamanan pangan dapat menjadi sumber informasi terpercaya terkait dengan isu BPA ini.

"Kami berharap konsumen dapat juga mengecek via BPOM terkait dengan isu-isu yang beredar yang belum tentu kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan seperti isu BPA dalam galon guna ulang ini," lanjutnya.

Untuk diketahui, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI telah mengeluarkan pernyataan resminya. Berdasarkan pengawasan BPOM, kemasan galon AMDK yang terbuat dari Polikarbonat (PC) dalam lima tahun terakhir masih aman menurut standar Indonesia maupun dunia, dengan nilai migrasi BPA di bawah 0.01 bpj (10 mikrogram/kg).

"Berdasarkan hasil pengamatan BPOM terhadap kemasan galon AMDK yang terbuat dari Polikarbonat (PC) selama lima tahun terakhir, menunjukkan bahwa migrasi BPA masih di bawah 0,01bpj atau 10mikrogram per kilogram (10mikrogram/kg). Itu masih dalam batas yang aman," tulis BPOM dalam website resminya yang diunggah pada 24 Januari 2021.

Untuk memastikan paparan BPA pada tingkat aman, Badan POM telah menetapkan Peraturan Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan. Peraturan ini mengatur persyaratan keamanan kemasan pangan termasuk batas maksimal migrasi BPA maksimal 0,6 bpj (600 mikrogram/kg) dari kemasan PC.

"Kajian Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menyatakan belum ada risiko bahaya kesehatan terkait BPA karena data paparan BPA terlalu rendah untuk menimbulkan bahaya kesehatan. EFSA menetapkan batas aman paparan BPA oleh konsumen adalah 4 mikrogram/kg berat badan/hari," lanjut pernyataan tersebut.

BPOM mengilustrasikan seseorang dengan berat badan 60 kg masih dalam batas aman jika mengonsumsi BPA 240 mikrogram/hari. Penelitian tentang paparan BPA (Elsevier, 2017) menunjukkan kisaran paparan sekitar 0,008-0,065 mikrogram/kg berat badan/hari sehingga belum ada risiko bahaya kesehatan terkait paparan BPA.

"Beberapa penelitian internasional juga menunjukkan penggunaan kemasan PC termasuk galon AMDK secara berulang tidak meningkatkan migrasi BPA," tuntasnya.

Selain BPOM, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI juga telah mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa isu yang beredar merupakan hoaks atau disinformasi.

Simak juga 'Banyaknya Berita Hoax Jadi Tantangan Pelaksanaan Vaksinasi di Indonesia':

[Gambas:Video 20detik]




(ega/ega)