Puluhan WNI Mulai Tinggalkan Myanmar Usai Suasana Makin Mencekam

Antara News - detikNews
Kamis, 25 Mar 2021 09:49 WIB
Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Judha Nugraha.
Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kemlu, Judha Nugraha (Dok. Kemlu RI)
Naypyidaw -

96 warga negara Indonesia (WNI) yang tengah berada di Myanmar akan pulang ke Tanah Air. Mereka telah melapor ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Yangon.

"Pada Maret saja, tercatat 96 WNI yang sudah lapor ke KBRI (Yangon) akan pulang sampai akhir bulan ini," kata Direktur Perlindungan WNI dan BHI Kementerian Luar Negeri Judha Nugraha dilansir dari Antara, Kamis (25/3/2021).

Judha menerangkan saat ini ada dua penerbangan yang dapat memfasilitasi WNI keluar dari Myanmar, yakni maskapai Singapore Airlines dan Myanmar Airlines. Penerbangan itu memang diperbantukan bagi warga negara asing, termasuk WNI, yang hendak keluar dari Myanmar.

Dari data Kemenlu, ada 362 WNI yang tinggal di Myanmar. Mayoritas merupakan pekerja profesional. Sebanyak 20 WNI di antaranya telah berada di tempat perlindungan sementara di Sekolah Indonesia Yangon.

Anak perempuan 7 tahun 'tewas ditembak aparat keamanan' di Myanmar, jadi korban termuda junta militerRicuh di Myanmar (BBC World)

Judha mendesak para WNI untuk meninggalkan tempat tinggal masing-masing dan merapat ke Sekolah Indonesia Yangon demi keselamatan. Pasalnya, Sekolah Indonesia Yangon berada di wilayah diplomatik sehingga dirasa aman untuk ditinggali.

Meski begitu, Yudha tak bisa menjamin pemerintah Indonesia melakukan evakuasi. Pasalnya, berdasarkan penilaian di lapangan, warga negara asing, termasuk WNI, tidak menjadi sasaran kekerasan.

Karena demonstrasi masih terus berlangsung, pemerintah menyarankan WNI untuk terus waspada dan tidak ikut turun ke jalan. Serta menyiapkan stok makanan untuk 2 bulan ke depan.

"Bagi WNI yang tidak memiliki kepentingan mendesak di Myanmar, kami minta untuk mempertimbangkan pulang ke Indonesia," ujar Judha.

Sebelumnya, juru bicara junta militer, Zaw Min Tun, mengatakan pada Selasa (23/3), sekitar 164 pengunjuk rasa telah tewas dan menyatakan kesedihan atas kematian itu. Zaw Min Tun pun menyalahkan para pengunjuk rasa atas terjadinya pertumpahan darah dan mengatakan sembilan anggota pasukan keamanan juga tewas.

Sedangkan kelompok aktivis Asosiasi Bantuan untuk Tahanan Politik (AAPP) mengatakan setidaknya 275 orang telah tewas terkait kekerasan yang dilakukan pasukan keamanan.

Simak juga 'Aksi Mogok Massal, Bisnis di Myanmar Tutup Total':

[Gambas:Video 20detik]

(isa/haf)