Analisis Pakar soal Kasus Anak Penggal-Arak Kepala Ayah di Lampung

Matius Alfons - detikNews
Rabu, 24 Mar 2021 05:18 WIB
Jakarta -

Pria asal Lampung Tengah, Kukuh (31), diduga membunuh ayahnya, Selamet, lalu membawa kepala sang ayah yang telah dipenggalnya itu keliling kampung. Bahkan Kukuh mengaku sempat mendengar bisikan sebelum melakukan tindakan kejinya tersebut.

Pakar Kriminolog FISIP Universitas Indonesia, Adrianus Meliala menyebut gejala tersebut khas dilakukan seseorang yang menderita psikotik paranoid. Dia menyebut tindakannya didasari atas keinginan mencelakai orang lain yang hendak mencelakakan yang bersangkutan atas bisikan tersebut.

"Ini gejala khas penderita psikotik paranoid, khususnya yang memiliki delusi pencuriga. Singkatnya, selalu dibisiki bahwa ada orang lain yang akan menjahati maka pelaku harus balas duluan," kata Adrianus, saat dihubungi, Selasa (23/3/2021).

Adrianus menilai penderita ini memiliki implikasi yang sangat serius. Dia berpendapat, jika analisisnya benar, maka yang bersangkutan tidak bisa dipidana sesuai Pasal 44 KUHP, namun harus diberikan obat keras.

"Penderita tidak bisa dipidana dan harus dirawat. Pasal 44 KUHP tentang sakit jiwa berlaku pada kasus ini. Nah, karena implikasi amat serius maka semua penderita psikotik mesti memperoleh pengawasan negara dan fasilitasi negara. Misal berupa pemberian obat yang kemungkinan termasuk obat keras," ucapnya.

Adrianus menyayangkan kasus ini bisa terjadi lantaran fasilitas kesehatan khusus psikiatrik seperti ini belum ada pengawasannya di Indonesia. Selain itu, keluarga penderita juga sering tidak tahu bahkan menutupi penyakit anggota keluarga sehingga akhirnya semuanya baru terbuka setelah kejadian pembunuhan ini.

"Untuk Indonesia, pengawasan ini belum ada. Selain fasilitas kesehatan belum mampu memberikan layanan psikiatrik seperti itu, juga karena keluarga penderita sendiri sering tidak tahu atau menutupi penyakit anggota keluarga. Baru setelah membunuh, ketahuan penyakitnya dan dirawat," ujarnya.

Simak di halaman berikutnya analisis Pakar Psikologi Forensik, Reza Indragiri Amriel.

Selanjutnya
Halaman
1 2