Sebelum Pekerja Migran Berangkat, Kemnaker Cek Kondisi Psikologis

Erika Dyah - detikNews
Selasa, 23 Mar 2021 18:56 WIB
Direktur Perlindungan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN) Kemnaker, Eva Trisiana
Foto: Kemnaker
Jakarta -

Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memberikan perhatian terhadap kondisi psikologis dan kesehatan mental Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang akan berangkat ke negara penempatan. Hal ini dilakukan Kemnaker sebagaimana tercantum dalam Pasal 13 Undang-Undang (UU) Nomor 18 Tahun 2017 tentang Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (UU PPMI) sebagai salah satu dokumen bagi Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI).

Direktur Perlindungan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri (PPTKLN) Kemnaker, Eva Trisiana, mengatakan bahwa salah satu pengaturan teknis penempatan dan pelindungan pekerja migran adalah Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2011 tentang Pemeriksaan Kesehatan dan Psikologi Calon Tenaga Kerja Indonesia.

"Pengaturan khusus ini maknanya adalah kondisi psikologi dianggap sebagai hal penting bagi Calon Pekerja Migran Indonesia dalam pelaksanaan tugasnya," ujar Eva dalam keterangan tertulis, Selasa (23/3/2021).

Dalam seminar bertajuk 'Kegiatan Intervensi Psikologis untuk CPMI' di Jakarta, Eva pun menegaskan pemerintah telah berupaya untuk membekali PMI dengan keterampilan yang menunjang pekerjaan melalui Balai Latihan Kerja (BLK).

"Namun hal yang terkait dengan kondisi psikologis dan kesehatan mental PMI masih menjadi fokus perhatian," katanya.

Kendati demikian, Eva mengaku bahwa penerapan intervensi psikologi ini masih belum optimal. Ia menjelaskan, ketidaksiapan kondisi psikologi dapat menjadi ancaman stres dan gangguan psikologis bagi PMI. Baik terkait dengan situasi kerja, perbedaan budaya dan situasi negara tempat bekerja, serta kecemasan yang timbul dari keluarga yang ditinggalkan.

"Hal ini pada gilirannya dapat juga berdampak kepada kenyamanan dan kesiagaan bekerja selama di negara tujuan penempatan," pungkasnya.

Selain itu, Eva menyampaikan pihaknya turut mengapresiasi kesediaan BLK dan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) serta seluruh CPMI yang berpartisipasi di acara seminar ini. Tak hanya itu, lanjutnya, Kemnaker juga menyambut positif langkah Universitas Mercu Buana yang menggelar seminar bertema "Intervensi Psikologis untuk Calon Pekerja Migran Indonesia."

Eva menilai kegiatan seminar ini merupakan soft reminder kepada Kemnaker selaku pembuat kebijakan dalam tata kelola penempatan PMI.

"Seminar ini juga sekaligus sebagai kesempatan untuk menguji coba model, pola, pendekatan, dan/atau teori yang sesuai untuk konteks PMI. Hasil dari kegiatan ini tentunya dapat memberikan gambaran dan rekomendasi, " ujar Eva.

Ia berharap ke depannya kegiatan serupa dapat lebih difokuskan pada segmen CPMI tertentu atau negara tujuan penempatan tertentu. Tujuannya, agar dapat menggambarkan perbedaan treatment yang signifikan terkait dengan intervensi psikologis.

"Ke depannya lagi, kami sungguh berharap upaya-upaya ini dapat memberikan kontribusi konkret dalam mewujudkan tata kelola penempatan Pekerja Migran Indonesia, sesuai kondisi ideal yang diharapkan dalam peraturan perundang-undangan," ujarnya

(mul/mpr)