Pendemo Plaza 89 Ogah Didekati Wartawan dan Ketua FPDIP
Rabu, 01 Mar 2006 15:10 WIB
Jakarta - Entah mengapa, pendemo anti Freeport di Gedung Plaza 89 terang-terangan ogah didekati wartawan. Wartawan yang sedang mewawancarai Ketua FPDIP DPR Tjahjo Kumolo dilarang dekat-dekat dengan mereka."Kalian pikir kami bodoh! Kalian pikir kami bodoh!" seru sebagian besar pendemo sambil meminta wartawan dan Tjahjo Kumolo menjauh dari area pendemo yang tengah duduk dan berorasi di jalur lambat Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Rabu (1/3/2006).Hingga pukul 14.30 WIB, pendemo dari Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat (Pepera PB) masih terus menggelar orasi dengan tuntutan yang sama: "Tutup Freeport!"Aksi 150-an pendemo ini dibantu sekitar 10 mahasiswa dari Front Aksi Mahasiswa Semanggi Atma Jaya yang bergabung dengan demonstran sekitar pukul 14.00 WIB.Tuntutan mereka juga tidak jauh beda. Mereka mempertanyakan UU Penanaman Modal Asing tahun 1967. Mereka juga minta Freeport ditutup atau dinasionalisasi. Tidak hanya itu saja, mereka juga menyatakan penolakannya terhadap kapitalisme dan neoliberalisme.Sementara Ketua FPDIP Tjahjo Kumolo yang menyaksikan aksi itu mengaku mendukung Pepera. Namun ia tidak setuju jika Freeport harus ditutup.Aksi-aksi yang menuntut penutupan Freeport, katanya, merupakan ujian bagi pemerintahan SBY-JK, sehingga mereka bisa memperjuangkan konsesi yang lebih besar untuk rakyat Papua. Sebab masalah di Papua tidak jauh berbeda dengan di Aceh, sehingga harus diseriusi pemerintah."Saya tidak setuju penutupan PT Freeport, pemerintah harus mencari solusi bagaimana agar pemerintah mampu menjamin keamanan investasi asing di Papua. Tetapi sekaligus menciptakan keadilan bagi masyarakat Papua," katanya.
(umi/)











































