Direktur Indo Barometer Dukung Duet Jokowi-Prabowo di Pilpres 2024

Rahel Narda Chaterine - detikNews
Kamis, 18 Mar 2021 17:11 WIB
M Qodari
M Qodari (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Direktur Indo Barometer M Qodari menilai Indonesia tidak akan terlepas dari polarisasi menjelang perhelatan pemilu. Ia menilai, jika Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto bersatu di Pilpres 2024, maka dapat mengurangi polarisasi dan ketegangan dalam masyarakat.

"Hemat saya, dengan pasangan Jokowi Prabowo 2024, maka kemudian potensi polarisasi ketegangan risiko konflik dan pertarungan yang bisa kemudian menjadi pertumpahan darah itu akan jauh berkurang," kata Qodari kepada wartawan, Kamis (18/3/2021).

Menurut Qodari, ancaman terbesar bangsa Indonesia ini adalah polarisasi di masa pemilu. Ia juga mencontohkan kerusuhan pemilu di AS pada 2020.

"Hal semacam itu menurut saya harus jadi pelajaran yang luar biasa bagi bangsa kita, karena AS yang sudah hampir 245 tahun berdiri status ekonominya begitu tinggi, pendidikannya juga begitu tinggi bisa sedemikian terbelah. Dan bukan mustahil hal semacam itu atau yang lebih buruk lagi di Indonesia," ucapnya.

Kemudian, Qodari juga menyoroti kerusuhan di Tanah Air yang terjadi menjelang pelantikan Presiden Jokowi dan Wapres Maruf Amin pada 2019. Namun, menurutnya, hal itu terantisipasi oleh pertemuan Jokowi dengan Prabowo.

"Nah untungnya terantisipasi oleh Pak Jokowi yang kemudian inisiatif dan datang untuk menghubungi Pak Abu Rizal Bakrie, besoknya ketemu Pak Prabowo ke Kertanegara sehingga kemudian pada akhirnya hadir ya Pak Prabowo dan Hatta di sidang umum MPR," ucapnya.

Bahkan ia menilai polarisasi masyarakat masih terjadi pada 2019. Ia pun menilai polarisasi serupa berpotensi kembali terjadi pada 2024.

"Kemudian 2019, keterbelahan itu juga semakin dalam, semakin jauh dan ya walaupun pada akhirnya Pak Prabowo bergabung ke pemerintahan tapi kita sempat mengalami ketegangan yang luar biasa," ujarnya.

"Jadi menurut saya hal semacam ini berpeluang untuk menjadi lebih parah di 2024 yang akan datang," sambungnya.

Seperti diketahui, saat ini muncul isu masa jabatan presiden 3 periode usai diembuskan politikus senior Amien Rais. Presiden Jokowi angkat bicara dengan menegaskan dia tak berminat.

"Saya tegaskan, saya tidak ada niat. Tidak ada juga berminat menjadi presiden tiga periode," kata Jokowi.

(hel/gbr)