Pihak Pemasang Tembok di Akses Rumah Warga Ciledug Jelaskan Alasan Pemagaran

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Rabu, 17 Mar 2021 13:48 WIB
Jakarta -

Aparat telah membongkar tembok 2 meter yang menutup akses rumah warga Ciledug, Hadiyanti (60). Pihak pemasang tembok itu lalu buka suara.

Pihak pemasang tembok itu merupakan orang yang mengklaim sebagai pemilik tanah bernama Rully. Rully adalah ahli waris Anas Burhan. Saudara Rully yang juga ahli waris Anas Burhan, Herry Mulya, angkat bicara mengenai pembongkaran ini.

"Pertama, kami menyayangkan kegiatan pembongkaran yang dilakukan aparat hari ini karena tidak adanya keputusan pengadilan terlebih dahulu. Tapi kami harus menerima itu karena kami tidak mau melakukan perlawanan kepada aparat. Kami akan meneruskan berdasarkan hukum yang berlaku," kata Herry, di sekitar rumah Hadiyanti, Ciledug, Kota Tangerang, Rabu (17/3/2021).

Tembok yang menutup akses keluar-masuk rumah Hadiyanti (60), warga Ciledug, Kota Tangerang, dirobohkan. Ekskavator pun diturunkan.Tembok yang menutup akses keluar-masuk rumah Hadiyanti (60), warga Ciledug, Kota Tangerang, dirobohkan. Ekskavator pun diturunkan. Foto: Grandyos Zafna

Herry menegaskan tembok yang berdiri di sekitar rumah Hadiyanti adalah tanahnya. Dia membantah telah menutup akses keluar-masuk rumah Hadiyanti.

"Yang kedua, kami ingin menginformasikan bahwa tidak benar kami tidak memberikan akses di tempat sini (rumah Hadiyanti). Penyebab kenapa dipagar itu adalah kekhawatiran kami akan diserobot tanah kami karena pemilik sebagian bangunan ini Ibu Yanti, mau menjual tanahnya dan mengikutkan tanah kami," ujarnya.

Dia menjelaskan sebagian tanah di sekitar bangunan yang menjadi tempat tinggal Hadiyanti masih milik Anas Burhan.
Pihak keluarga Anas Burhan merasa dianggap sebagai pihak yang menzalimi keluarga Hadiyanti.

"Ini bukan jalan umum, ini jalan fasilitas yang kami miliki sebagai bagian dari usaha kami berupa kolam renang sejak tahun 1990-an yang sekarang ini sudah tidak kami miliki lagi. Yang diteruskan oleh ibu Yanti. Ibu Yanti meneruskan dengan tetap mengikutkan tanah milik kami yang ada di belakang 1.000 meter, bertahun-tahun dia pakai tanpa ada kompensasi 1 sen pun. Jadi kami merasa sudah sebagai tetangga, membolehkan beliau untuk menggunakan aset kami, mengunakan jalan ini tapi kami dibalik-balikkan sehingga menjadi pihak yang dizholimi, (maksudnya) mengzholimi mereka ya," bebernya.

Lanjutnya, Herry mengatakan tanah di depan rumah Hadiyanti bukanlah jalan umum, atau belum dihibahkan. Dia pun kembali mengungkapkan tanah ayahnya belum diwariskan atau kepemilikannya masih atas nama Anas Burhan.

"Kami saja belum pecah waris, belum pecah waris. Jadi ayah saya, Haji Anas Burhan itu sudah meninggal tahun 2009, ya. Kami ada ahli warisnya 4 orang. Kami belum waris sama sekali. Jadi tidak mungkin ada hibah-hibah atau apa. Tidak mungkin itu karena kepemilikannya masih diatas AJB (Akta Jual Beli Nomor) 498. Masih atas nama Anas Burhan," ucap Herry sambil memperlihatkan surat AJB.

Herry pun memperlihatkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan (SPPT PBB). Dia juga memperlihatkan sketsa kepemilikan tanah Anas Burhan

"Ini adalah tanah ini, ini tanahnya. Ini tanah semuanya, sebagian punya Haji Munir dan Ibu Yanti, sebagian masih punya kami. Termasuk tadi yang mungkin bapak dengar, itu tanah kami juga. Kenapa kok tiba-tiba buang puingnya di tempat kami, gitu. Kami juga membayar pajak lho. Jadi semua itu ada bukti-bukti kepemilikannya dari lahan ini," kata dia.

Pihak pemasang tembok 2 meter di akses warga CiledugPihak pemasang tembok 2 meter di akses warga Ciledug Foto: Sachril Agustin Berutu/detikcom

Herry mengaku akan membuktikan kepemilikan tanah ayahnya. Dia pun ingin Hadiyanti berhenti mengucapkan sesuatu hal yang membuat persepsi berbeda.

"Ini (kasih liat dokumen), ini membuktinya. Kami membuktikan kepemilikan tanah kami dan akan melakukan pemagaran ulang. Ya, salah satunya itu (membuat pagar). Tapi tentunya kami akan bicara dulu dengan ahli waris mengenai langkah-langkah yang harus dibuat," tandas Herry.

Pihak pemasang tembok 2 meter di akses warga CiledugPihak pemasang tembok 2 meter di akses warga Ciledug Foto: Sachril Agustin Berutu/detikcom

Terpantau, tembok yang menutup akses keluar-masuk rumah Hadiyanti sudah dirobohkan. Puing-puing telah diangkut.

Ekskavator yang digunakan untuk merobohkan tembok 2 meter ini telah dibawa pergi. Aparat gabungan pun telah meninggalkan lokasi.

(sab/imk)