6 Demonstran Plaza 89 Diciduk Polisi
Selasa, 28 Feb 2006 19:30 WIB
Jakarta - Apes. Mungkin inilah yang dirasakan 6 orang demonstran di Plaza 89, Kuningan, Jakarta Selatan. Saat demo akan berakhir, mereka justru diciduk polisi.Penangkapan ini terjadi di depan Plaza 89, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, Selasa (28/2/2006) pukul 17.30 WIB. Saat itu, polisi gencar meminta para demonstran untuk membubarkan diri sebelum pukul 18.00. Tiba-tiba, beberapa personel polisi yang tidak memakai pakaian dinas langsung menarik sejumlah demonstran ke pinggir jalan. Mereka yang diciduk adalah Islah (Kontras), Wahyu (LSAD), Ari Arianto (Solidaritas aceh-Papu), Awing (PBHI) dan Ridho (PBHI) dan Ruis.Merasa dirinya akan ditangkap, mereka pun meronta-ronta meminta dilepaskan. Namun, bukannya dilepas, malah beberapa polisi membantu mengamankan para pendemo itu. Meski ada sejumlah rekannya ditangkap polisi, ratusan pendemo seakan tidak peduli. Mereka tetap serius menyanyikan lagu-lagu rohani. Kapolres Jaksel, Kombes Pol Wiliardi, mengaku tidak tahu menahu mengenai aksi penangkapan itu. "Polisi hanya akan menangkap orang yang bersalah saja," ujarnya diplomatis. Beberapa polisi yang enggan disebut namanya mengatakan 6 orang tersebut ditangkap atas dugaan memprovokasi massa berbuat anarkis.Unjuk Rasa Berakhir DamaiSetelah dibujuk berulang kali, 200-an peserta demo akhirnya mau membubarkan diri. Mereka sebelumnya bersikukuh ingin bertahan di depan gedung, tempat PT Freeport mengantor ini. Setelah ada negosiasi yang cukup lama, mereka pun mengakhiri aksinya."Kalian bisa ke sini besok dan akan kami kawal," ujar Wiliardi melalui pengeras suara. Pihak kepolisian sendiri menyiapkan 3 truk dan 2 bus berukuran sedang untuk mengangkut para pendemo. Namun, sebagian besar menolak dan memilih jalan kaki menuju Kantor Walhi di kawasan Mampang Prapatan, Jaksel. Hanya 1 unit truk saja yang digunakan massa. Alhasil, arus lalu lintas dari arah Mampang menuju Menteng padat merayap. Sebab, hanya ruas jalur cepat saja yang bisa digunakan. Sedangkan jalur lambat dikuasai oleh para pendemo yang melakukan aksi jalan kaki.
(ton/)











































