Jazilul: NU DKI Seperti Teratai, Indah tapi Akarnya Tak Kuat

Erika Dyah Fitriani - detikNews
Jumat, 12 Mar 2021 10:31 WIB
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid
Jazilul Fawaid (kanan) Foto: dok. MPR RI
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid kembali bersilaturahmi ke sejumlah kiai dan Pengurus Anak Cabang (PAC) Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah DKI Jakarta. Kunjungan itu terkait rencana untuk maju sebagai calon ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta.

Pada pertemuannya dengan jajaran PAC Jakarta Barat, Selasa (9/1), pria yang akrab disapa Gus Jazil ini mengungkapkan komitmennya untuk memperkuat dan menata PWNU DKI.

Adapun mantan ketua cabang Pergerakan Mahasiswa Muslim Indonesia (PMII) Jakarta Selatan ini mengibaratkan, kondisi PWNU DKI Jakarta seperti bunga teratai yang indah dipandang dari permukaan, namun akarnya tidak kuat.

"NU DKI ini tampak indah, seperti bunga teratai, indah dari atas, tapi akarnya nggak kuat, nggak gigit. Kalau ada apa-apa mudah bergeser. Nah ini tanggung jawab kita bersama, bukan berarti menyalahkan, tapi memang cara dakwah di DKI ini beda," kata Jazilul dalam keterangannya, Jumat (12/3/2021).

Lebih lanjut, Ketua Umum Ikatan Keluarga Alumni Institut Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ) Jakarta ini mendorong NU DKI Jakarta bangkit. Sebab ia menilai, NU akan memiliki tokoh pembaharuan di usianya yang sudah hampir seabad.

"NU dua tahun lagi usianya akan genap seabad, saya ingin berbakti, mengabdi di NU DKI. Saya gunakan kesempatan ini untuk merajut historical kita, sejarah kita yang besar di DKI," urainya.

Jazilul menilai, NU sebagai tempat pengabdian. Oleh karenanya, ia melihat kehadiran sejumlah nama yang disebut bakal maju sebagai kandidat ketua PWNU DKI sebagai tanda kembalinya gairah dalam NU DKI.

"Biar saja. Dibuka saja pintu untuk bisa komunikasi. Saya nggak tahu nanti formatnya seperti apa, tapi NU ini kan tempatnya ulama, jadi menurut saya semua keputusannya pasti dengan format ulama, bukan dengan format politisi," paparnya.

Ia juga mengatakan jika NU di DKI ini sebenarnya besar namun gaungnya kurang terdengar. Oleh sebab itu, dalam kunjungannya ke sejumlah PAC, MWC, bahkan ranting ia meminta saran tentang bagaimana merajut kebersamaan dalam membesarkan NU DKI.

"Konteks kebersamaan ini lebih penting daripada sekadar posisi ketua. Misalnya saya jadi ketua NU DKI, tapi NU di DKI nggak maju atau tidak manfaatnya karena NU hanya seperti bunga teratai," ucapnya.

Adapun Alumni Pondok Pesantren Ihyaul Ulum, Gresik, Jawa Timur ini mengaku membenahi NU DKI bukanlah perkara mudah. Kendati begitu, Gus Jazil menyampaikan dirinya optimistis mampu mengkonsolidasikan semua kekuatan dan potensi dan membuat NU DKI jauh lebih baik kedepannya.

Tak hanya bertemu jajaran PAC NU Jakarta Barat, Gus Jazil juga melakukan silaturahmi ke sesepuh NU, KH Syarifudin Abdul Ghoni di Kembangan Utara, Jakarta Barat. Selain untuk mempererat silaturahmi, Gus Jazil mengaku meminta didoakan terkait langkahnya maju sebagai calon ketua PWNU DKI.

Ia pun mengatakan sangat kagum terhadap Kiai Syarifudin Abdul Ghoni yang sanad keilmuannya tercatat hingga Rasulullah SAW. Bahkan, lanjutnya, kitab karangan beliau yang berisi mengenai berbagai hadits dan penjelasannya dicetak di Arab Saudi.

Selain itu, Jazilul juga bersilaturahmi ke Ranting NU Kwitang, Kecamatan Senen. Ia mengatakan, di kesempatan ini dirinya menjaring aspirasi dari bawah tentang bagaimana membangun NU DKI ke depan.

Diketahui, Koordinator Nasional Nusantara Mengaji ini disambut dengan lantunan selawat Nabi serta ikut secara langsung mengaji kitab "Kaifa Takunu Ghoniyan" atau Cara Cepat Menjadi Kaya karya Al Habib Muhammad Bin Alawi Alaydrus dan Kitab Risalah Ahlusunnah Wal Jamaah yang ditulis Hadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari.

Sementara itu, Ketua PAC NU Jakarta Barat Agus Salim mengatakan, selama ini NU DKi lebih sering dipimpin para birokrat. Seperti mantan gubernur Fauzi Bowo, mantan Menpera Djan Faridz, juga Sekda almarhum Saefullah.

Agus menilai, di bawah kendali para birokrat, NU DKI mengalami sejumlah kendala salah satunya tersumbatnya komunikasi.

"Solusi di NU Jakarta kuncinya komunikasi. Jadi memang sebenarnya semua punya plus minus. Jadi memang sekarang (calon ketua) yang dibutuhkan komitmen dengan NU, apapun latar belakang dia," pungkas Agus.

Simak juga 'JK Bicara 'Kekosongan Kepemimpinan', PKB: Kritik Itu Obat dan Vitamin':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)