Wapres Menjajal ATM Kondom
Selasa, 28 Feb 2006 14:19 WIB
Jakarta - Masih ingat ATM kondom? Vending machine yang heboh akhir tahun lalu itu rupanya menarik atensi Wapres Jusuf Kalla. Kalla pun menyempatkan diri mencoba mesin sederhana itu.Cleng! Cleng! Cleng! Tiga uang logam Rp 500-an dicemplungkan Kalla ke mulut mesin. Setelah itu, Kalla memilih jenis kondom, mau rasa strawberi, jeruk atau lainnya. Setelah memilih, sreet, keluarlah sekotak kondom berisi tiga bungkus.Kalla yang mengenakan kemeja lengan panjang itu mencoba ATM kondom di Kantor Pusat BKKBN, Jalan Permata No 1, Halim, Jakarta Timur, Selasa (28/2/2006). Kalla bertandang di kantor itu dalam rangka membuka Rapat Kerja Nasional BKKBN 2006. Acara yang bertujuan merumuskan program nyata KB nasional ini diikuti 300 orang perserta terdiri dari para gubernur, bupati dan walikota se-Indonesia. Setelah membuka, Kalla didaulat mencoba ATM Kondom. Di kantor itu setidaknya ada dua mesin. Mesin itu ditulisi selembar kertas karton bertuliskan vending machine kondom. Mesin itu bergambarkan lingkaran biru KB.Dan setelah kondom keluar dari mesin sederhana itu, Kalla tampak tertawa lebar. Prioritaskan KBDalam pidato pembukaannya, Wapres Jusuf Kalla mengingatkan para kepala daerah untuk bersungguh-sungguh memprioritaskan program KB. Bila tidak, dikhawatirkan di masa mendatang akan terjadi ledakan jumlah penduduk yang memunculkan berbagai masalah sosial, ekonomi, kesehatan dan lingkungan serius. "Kalau tidak ada KB, pada 20 tahun lagi penduduk RI bisa 400 juta orang. Kalau sampai terjadi ada longsor, banjir, orang bekelahi di mana-mana. Ekonomi kita menjadi seret dan efek sosial bermacam-macam," kata Kalla. Wapres mengungkapkan, dirinya mendapati banyak pemerintah kabupaten/kota di era otonomi daerah yang tidak lagi serius melaksanakan KB. Akibatnya prestasi KB berupa rendahnya tingkat pertumbuhan penduduk yang dicapai pada masa sebelumnya sekarang mentah kembali. Padahal sebenarnya program itu mendapat anggaran yang cukup dari pemerintah pusat. "Seperti di Jatim ada kabupaten yang dulu pertumbuhan penduduknya 1 persen, sekarang sudah kembali 2 persen. Karena program KB-nya ndak tahu dibawa ke mana. Ke dinas apa, digabung-gabung ke mana. Tidak diperhatikan. Padahal diberi anggaran yang cukup. Dulu kepala pasar sekarang mengepalai KB, ya ngertilah prinsip-prinsipnya," ungkap Kalla. Wapres juga mengingatkan hendaknya program KB yang akan dilaksanakan harus sesuai dengan ketersediaan lingkungan, aspek penyebaran demografis dan kebudayaan daerah serta nilai yang dianut masyarakat setempat. Tidak lagi kaku dengan dogma "dua anak cukup, laki-laki perempuan sama saja" yang dipakai pada awal KB mulai digelar 30 tahun lalu. Selain agar sosialisasi KB dapat diterima dengan baik oleh warga yang menjadi sasaran, pemerintah bisa lebih menghemat tenaga dan biaya. "Di Jawa yang lahannya kian sempit mungkin sudah pas. Tapi di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera beda, mungkin tiga cukup. Di Papua, kalau tidak lima (anak) itu bukan keluarga di sana, maka empat cukup," ujarnya.
(nrl/)











































