Beda dari Biasa, Desa Ngenep Kembangkan Motif Batik Istimewa Ini

Erika Dyah - detikNews
Kamis, 11 Mar 2021 14:20 WIB
Batik Ngenep
Foto: Erika Dyah
Karangploso -

Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang memiliki batik khas di setiap desanya, tak terkecuali Desa Ngenep yang mengembangkan kerajinan batik melalui ibu-ibu kelompok wanita tani (KWT).

Dewi Mardiyah (50) salah seorang pelopor kerajinan batik serta pemilik workshop dan galeri batik di Desa Ngenep menyampaikan, Malang memiliki banyak sekali motif batik. Bahkan, Kecamatan Karangploso mengembangkan batik di 9 desanya dengan ikon masing-masing.

"Kalau Ngenep sendiri ikonnya itu pepaya, wit kates yang kami jadikan motif batik," ungkap Dewi kepada detikcom saat ditemui beberapa waktu lalu.

"Proses membatik itu sama. Tapi kita punya ciri khas, punya kates atau pepaya itu tadi. Kita punya ikon sendiri-sendiri, inilah keistimewaan kita," lanjutnya.

Dewi mengungkap bahwa Desa Ngenep sendiri merupakan penghasil pepaya. Ia berkisah, menurut kata para pendahulu, pepaya dikembangkan di desa ini sebab tanaman ini mudah ditanam oleh siapa saja, dan bisa dimakan oleh siapa saja. Tidak ada risiko dari konsumsinya, baik untuk bayi, anak-anak, hingga orang dewasa.

Oleh karena itu, hasil produk pepaya dapat dengan mudah ditemui di Ngenep mulai dari kreasi manisan, keripik, stik, hingga yang terbaru kreasi batik.

"Desain ini dibuat sendiri, mengembangkan bareng-bareng sambil mikir potensi apa yang ada di desa. Jadilah pepaya," ucap Dewi.

Meski memiliki motif khas, Dewi mengaku tidak membatasi kreasi para perajin terkait warna batik yang dihasilkan. Namun, lanjutnya, biasanya ibu-ibu KWT akan berkonsultasi terlebih dahulu terkait padu padan warna agar pilihannya bisa tepat sesuai pasar yang akan dituju.

Adapun pewarnaan batik Desa Ngenep beragam macamnya, mulai dari penggunaan pewarna sintetis seperti remasol dan naptol, hingga penggunaan warna alami dari kulit kayu tingi, jolawe, serta mahoni.

Termotivasi dari teman-teman perajin di Batu yang kerap menyelipkan desain apel di setiap batiknya, Dewi mengaku ingin melakukan hal yang sama pada batik dari Desa Ngenep dengan desain pepayanya.

"Jadi begitu lihat ada apel, kita tahu itu dari Batu. Saya pengennya gitu, kenapa tidak saya selipkan pepayanya di setiap motif. Jadi pepaya ini harus dipertahankan dan jadi ciri khas, mau bagaimanapun desainnya akan diselipkan motif pepaya," tekannya.

Batik NgenepBatik Ngenep Foto: Erika Dyah

Dewi pun berharap bisa mengembangkan batik Ngenep dengan harga terjangkau agar batik khas desa ini dapat lebih mudah dipasarkan. Sebagai salah satu upaya mengakali tingginya harga dari batik tulis, Dewi mulai mengkreasikan alat cap dari kertas untuk membuat kreasi desain dengan harga lebih murah.

Diketahui, alat cap berbahan dasar tembaga atau kuningan yang umum digunakan memiliki harga mencapai Rp 350.000 per platnya.

"Tapi kalau punya ini juga harus punya koleksi banyak. Akhirnya, mengakali bagaimana untuk bisa buat sendiri kita buat dari kertas. Dengan kita buat seperti ini, kita mau buat motif apa saja jadi nggak perlu biaya banyak-banyak. Biar ekonomis," pungkas Dewi.

Kisah batik tulis dari Desa Ngenep ini menjadi satu dari kumpulan kisah dalam program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia. Program Jelajah UMKM mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, Ikuti terus jelajah UMKM bersama BRI hanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.

(mul/mpr)