Jaksa Konfirmasi Saksi soal Ketua DPC PDIP Kendal Terima Fee Bansos Corona

Zunita Putri - detikNews
Senin, 08 Mar 2021 20:29 WIB
Ketua DPC PDIP Kendal Akhmat Suyuti (Farih Maulana Sidik/detikcom).
Ketua DPC PDIP Kendal Akhmat Suyuti (Farih Maulana Sidik/detikcom)
Jakarta - Selain ke anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan artis Cita Citata, jaksa KPK mengungkap aliran fee bansos Corona ke sejumlah orang. Salah satunya Ketua DPC PDIP Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Akhmat Suyuti.

Awalnya ada penyerahan uang di Bandara Halim saat Juliari hendak ke Semarang itu diungkap oleh saksi mantan PPK Kemensos Corona, Matheus Joko Santoso. Joko membeberkan aliran uang fee bansos Corona.

"Saya coba sampaikan (rincian) di sini, untuk penyerahan ke pak menteri melalui Pak Adi (eks KPA bansos corona Kemensos) Rp 8,4 miliar, diberikan bertahap. Rp 2 miliar uang untuk apa kurang tahu diminta untuk serahkan saja, kemudian Rp 3 miliar saya sampaikan di ruang pak adi juga informasinya untuk bayar pengacara, kemudian Rp 1,4 miliar saya sampaikan di ruang pak adi, lalu Rp 2 miliar saya sampaikan di Bandara Halim waktu itu mau tugas ke Semarang, saya sampaikan ke Pak Adi di parkiran," papar Joko di Pengadilan Tipikor, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta, Senin (8/3/2021).

Lalu, jaksa KPK bertanya ke saksi, Adi Wahyono, yang merupakan mantan anak buah eks Mensos Juliari Peter Batubara terkait kepergian Juliari di Semarang. Jaksa mengonfirmasi ada atau tidak pemberian uang Rp 2 miliar dari Juliari ke Ahkmat Suyuti.

"Tadi Pak Adi mengatakan untuk operasional. Apakah ada dari penggunaan operasional tersebut di luar untuk kegiatan kementerian, artinya untuk kegiatan pribadi Juliari sendiri?" tanya jaksa KPK.

"Yang saya serahkan ke Pak Kukuh (Stafsus Juliari) saya tidak tahu," jawab Adi Wahyono.

"Apa diberikan ke Akhmat Suyuti?" tanya jaksa KPK.

"Saya tidak tahu dalam proses penyerahan di situ. Tugas saya hanya menyerahkan (uang) di Bandara," ujar Adi.

"Atas perintah siapa yang penyerahan (uang) di bandara?" tanya jaksa lagi.

"Pak menteri," singkat Adi.

Jaksa kemudian memutarkan percakapan telepon antara Adi dengan Akhmat Suyuti. Dalam percakapan itu disebut kalimat 'ada titipan dari Pak Menteri'.

Menurut Adi, kalimat titipan itu berarti sesuatu yang hendak diberikan ke Akhmat Suyuti dari Juliari. Namun, dia mengaku tidak jadi menyerahkan ke Akhmat Suyuti langsung karena Juliari mengadakan kunjungan ke Semarang.

"Artinya memang mau dikirimkan, tapi terus tiba-tiba ada kunjungan kerja," jelasnya.

"Artinya betul ada penyerahan uang ke Pak Akhmat ya?" tanya jaksa

"Saya pernah ketemu waktu istirahat di KPK ketemu Pak Yuti (Akhmat Suyuti). Sisanya menyerahkan uang, kalau melalui Semarang melalui Pak Eko," ucapnya.

Menurut Adi, hubungan Juliari dengan Akhmat Suyuti akrab. Sebab, Juliari sebelum menjabat Mensos dia adalah Caleg DPR Dapil I Jateng yang meliputi Kendal.

"Secara persis saya tidak tahu (hubungan Suyuti dan Juliari), hanya pak menteri kan Dapilnya Jateng I, meliputi Kabupaten Kendal, Kota Semarang, Kabupaten Semarang, sama Salatiga," pungkas Adi.

Dalam kasus ini, Juliari Peter Batubara, dan pejabat Kemensos Adi Wahyono serta Matheus Joko Santoso ditetapkan menjadi tersangka bansos Corona. Di sidang ini, yang duduk sebagai terdakwa adalah Harry Van Sidabukke dan Ardian Iskandar Maddanatja.

Keduanya didakwa memberi suap ke mantan Menteri Sosial Juliari Peter Batubara dkk. Harry disebut jaksa memberi suap Rp 1,28 miliar, sedangkan Ardian memberi Rp 1,95 miliar.

Keduanya memberi uang suap agar Kemensos menunjuk perusahaan mereka sebagai penyedia bansos sembako Corona. Mereka juga memberikan fee Rp 10 ribu per paket bansos ke Juliari setiap mereka mendapatkan proyek itu, uang ini yang disebut uang operasional. (zap/isa)