Tolak Pembangunan Stadion Mattoanging, Danny Sarankan Ganti Lapangan Anak

Ibnu Munsir - detikNews
Senin, 08 Mar 2021 15:24 WIB
Stadion Mattoanging Sulsel
Foto: Stadion Mattoanging sebelum dirobohkan Pemprov Sulsel untuk dibangun (Noval-detikcom).
Makassar -

Wali Kota Makassar Ramdhan 'Danny' Pomanto kembali menegaskan menolak pembangunan Stadion Mattoanging, yang diiniasi Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) nonaktif Nurdin Abdullah. Danny menyarankan agar Stadion Mattoanging diubah menjadi lapangan mini untuk anak-anak bermain.

Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman enggan mengomentari lebih jauh terkait penolakan Danny terhadap mega proyek Stadion Mattoanging. Andi Sudirman hanya mengisyaratkan, semua proyek yang sedang digarap Pemprov Sulsel saat ini berpotensi dilanjutkan, hanya melihat kesiapan anggaran.

"Semua berpotensi dilanjutkan, tinggal kita melihat nanti anggaran yang mana kita punya, yang mana kita kerjakan," kata Andi Sudirman kepada wartawan di Makassar, Senin (8/3/2021).

Pembangunan Stadion Mattoanging Makassar (Foto: Ibnu Munsir/detikcom)Foto: Stadion Mattoanging yang sudah diratakan dengan tanah (Foto: Ibnu Munsir/detikcom).

Sementara itu, Walkot Makassar Danny mengaku akan segera berkoordinasi dengan Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman terkait penolakannya terhadap pembangunan Mattoanging. Dia menegaskan, pelanggaran pembangunan Mattoanging terhadap Peraturan Daerah (Perda) Kota Makassar tentang rencana tata ruang tidak bisa ditawar.

"Kalau pelanggaran harus bilang pelanggaran, kalau baik harus bilang baik, saya kan bilang, itu Stadion ide bagus, desain juga bagus, tapi tempatnya yang salah kan," kata Danny.

Atas adanya Perda itu, Danny menegaskan sulit bagi Pemkot Makassar menerima kelanjutan pembangunan Mattoanging, meski nantinya ada rapat koordinasi bersama Plt Gubernur Sulsel.

"Susah (dilanjutkan Mattoanging) karena itu peraturan, kecuali Perda-nya diubah," ujarnya.

Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah memulai secara simbolis pembongkaran Stadion Mattoanging (dok. Istimewa).Foto: Gubernur Sulsel nonaktif Nurdin Abdullah saat memulai secara simbolis pembongkaran Stadion Mattoanging (dok. Istimewa).

Danny lalu menyarankan Pemprov Sulsel untuk mengubah rencana pembangunan Stadion Mattoanging menjadi ruang terbuka hijau (RTH) yang berisi 10 lapangan sepak bola mini. Nantinya 10 lapangan sepak bola mini di Mattoanging dapat menjadi tempat anak-anak bermain bola dan mengembangkan bakat.

"Sama dengan sepak bola juga, semangat sepak bola, tetapi (ruang terbuka) hijau kita bikin. Di situ legenda-legenda sepakbola (PSM Makassar) kita bikin semua di situ, patungnya Ramang (Andi Ramang legenda pemain PSM Makassar), jadi kita bisa bikin di situ khusus untuk sepakbola, selesai persoalan," jelasnya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Namun Danny mengaku belum berbicara ke Plt Gubernur Sulsel Andi Sudirman terkait sarannya agar Mattoanging diubah menjadi lapangan mini. Dia mengingatkan, jika Pemprov Sulsel tetap ingin membangun stadion bisa di kawasan Barombong, yang memang sesuai dengan Perda Tata Ruang.

"Kalau tidak mau di Barombong bisa di (Kecamatan) Biringkanaya, di sana ada tanahnya Pemerintah Kota, di sana kita punya 18 hektar," kata Danny.

Danny menyebut Pemkot Makassar di bawah kepemimpinannya siap memberikan lahan di wilayah Biringkanaya untuk Pemprov Sulsel membangun stadion.

"Dibutuhkan cuma 6 hektar di sana, ada jalan besar, nanti ke situ pas. Kalau lalu-lintas nya itu bisa dibuangannya (kendaraan) bisa dipertanggungjawabkan," jelasnya.

Danny kemudian menjalaskan salah satu sebab mengapa Stadion Mattoanging tidak bisa berdiri di kawasan yang disebutnya melanggar tata ruang. Di antaranya kemungkinan kepadatan lalu lintas jika stadion itu sudah jadi dan difungsikan.

"Jadi saya sampaikan kepada teman-teman biar tidak salah paham, ini stadion utama Senayan itu kapasitas 100.000, tapi kalau keluar (penonton) dia pembagian 4 sisi, setiap sisi jalan itu 25.000. Seperti (Jalan) Asia-Afrika," jelasnya.

"Kita bisa bayangkan Stadion Mattoangin 40.000 kapasitasnya, bisa satu jalan saja (tempat keluar penonton) namanya Jalan Cendrawasih. Bisa dibayangkan Asia-Afrika di Jakarta yang hanya menerima beban 25000 orang belum kendaraannya, (dibandingkan) dengan Jalan Cendrawasih yang begitu sempit menerima beban 40.000, kalau setuju (Mattoanging dibangun) masyarakat sengsara," pungkasnya.

(nvl/idh)