Dusun Lasah, Tempat Lahir Cendol Dawet Antimainstream, Penasaran?

Erika Dyah - detikNews
Senin, 08 Mar 2021 08:27 WIB
Cendol dawet
Foto: Rengga Sancaya
Karangploso -

Meski kerap ditemui, minuman cendol dawet memiliki kekhasan tersendiri bergantung pada asal daerah pembuatannya. Begitu juga dengan cendol dawet dari Dusun Lasah, Desa Tawangargo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang. Cendol dawet antimainstream dari Lasah ini telah dijajakan sejak tahun 1970-an dan dibuat dengan bahan yang berbeda dari cendol dawet kebanyakan.

Dikisahkan oleh Trisunu, salah satu pelopor cendol dawet Lasah, cendol dawet asal Lasah terbuat dari sagu bukan tepung beras. Penggunaan bahan baku yang berbeda menjadikan minuman tradisional dari Lasah ini memiliki cita rasa unik dibanding kebanyakan cendol dawet di pasaran.

Dalam Bahasa Jawa halus, Trisunu mengungkap bahwa resep uniknya ini tetap dipertahankan hingga sekarang, meski ia tak lagi berjualan cendol dawet karena keterbatasan usia. Ia pun mengatakan orang-orang tak merasa aneh dengan kehadiran cendol dawet berbahan dasar sagu ini. Malahan, banyak orang lebih suka dengan dawet dari sagu ini.

Hingga kini, cendol dawet sagu menjadi salah satu ikon dusun Lasah. Bahkan, penjualnya semakin beranak pinak seiring berjalannya waktu.

"Awalnya saya mengajari 7 orang, lalu orang yang telah mahir tadi mengajari orang lain, terus seperti itu hingga sekarang sudah 30 orang lebih yang berjualan dawet," ujar Trisunu saat ditemui detikcom beberapa waktu lalu.

Melihat keunikan tersebut, Mantri BRI Penemu Klaster Cendol Dawet Sagu Lasah Anindya Kristanti mendorong terbentuknya sebuah komunitas bagi para penjual cendol dawet sagu di Lasah. Ia pun mengkoordinasikan temuannya dengan pimpinan unit BRI Karangploso beserta Agen BRILink Anang Hardiansyah yang juga merupakan salah satu tokoh masyarakat di Dusun Lasah yang menggagas terbentuknya Klaster Cendol Dawet Sagu Lasah.

"Saya dengan Pak Anang mendalami komunitas dawet ini sendiri. Gimana kalau kita membentuk komunitas ini? Satu, mungkin untuk perekonomiannya biar mereka maju juga. Yang kedua, mereka juga biar di dalam komunitas itu ada silaturahmi dan bisa tukar wawasan," terang Nindy saat menceritakan awal mula tujuannya membentuk Klaster Cendol Dawet Sagu Lasah.

Ia pun menuturkan adanya kompleksitas yang menarik dari perputaran uang di dalam klaster ini. Yakni, para penjual dawet sagu hampir semuanya mengambil pinjaman modal di BRI, serta menghimpun simpanannya dalam berbagai bentuk tabungan di BRI juga. Sehingga, aliran perputaran uang yang terjadi dalam klaster ini bermula dan bermuara di BRI.

Sementara itu, Penggagas Klaster Cendol Dawet Sagu Lasah Anang Hardiansyah mengungkap terbentuknya klaster ini juga dipicu oleh bukti dari BRI yang dapat memberikan bantuan permodalan kepada para penjual dawet di Lasah.

"Alhamdulillah semua pedagang ikut paguyuban ini, karena itu tadi. Kita nggak butuh janji dan buktinya sudah ada dari BRI. Jadi teman-teman gampang ikut. Untuk permodalan juga sekarang mudah," pungkas Anang.

Adapun Kepala Cabang BRI Malang Soekarno Hatta Hendra Winata mengatakan pihaknya telah memberikan berbagai bantuan untuk bantu mengembangkan usaha dari para pedagang cendol dawet sagu khas Lasah ini.

"Ada standarisasi gerobak, sebelumnya gerobak cendol dawet yang ada di sini itu macem-macem. Akhirnya kita standarkan semua warnanya sama, kemudian sudah mulai ada logonya sehingga orang bisa mengenali kalau ini dawet sagu dari Lasah," pungkasnya.

Cendol dawetCendol dawet Foto: Rengga Sancaya

Lebih lanjut, Kepala Unit BRI Karangploso Pramono Hadi Putro menyampaikan pihaknya telah memberi kontribusi nyata tak hanya pada pengecatan rombong (gerobak). Namun juga memberikan sarana prasarana untuk berjualan berupa payung, tempat atau mangkuk cendol dawet dari batok, juga alat press untuk kemasan baru cendol dawet ini. Langkah ini dilakukan untuk dapat membantu penjual merasa nyaman saat berdagang, juga membuat cendol dawet sagu dari Lasah lebih menarik.

Selain bantuan fisik, BRI juga memberikan berbagai pelatihan untuk memajukan klaster ini, di antaranya pelatihan untuk pembuatan cendol dawet yang higienis serta pembuatan kemasan yang menarik. Juga mendorong para penjual untuk dapat berjualan secara online agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan meningkatkan omzet pendapatan.

"Dengan CSR tersebut mungkin bisa meningkatkan nanti omzet, penjualan, dan wilayah penjualan yang lebih bebas dan luas. Yang selama ini lokal saja di Karangploso, mungkin dengan CSR bisa berjualan di luar kota atau mungkin se-Indonesia/tingkat nasional," tutur Pramono.

Ia pun berharap klaster yang sudah terbentuk ini bisa berjalan berkesinambungan. Artinya, tidak berhenti pada satu waktu dan bisa menjadi histori untuk cucu-cicit para pedagang agar nantinya dapat meneruskan keluarga mereka berjualan cendol dawet antimainstream dari Lasah ini.

Kisah cendol dawet antimainstream dari Lasah ini menjadi satu dari kumpulan kisah dalam program Jelajah UMKM ke beberapa wilayah di Indonesia. Program Jelajah UMKM mengulas berbagai aspek kehidupan warga dan membaca potensi di daerah. Untuk mengetahui informasi lebih lengkap, Ikuti terus jelajah UMKM bersama BRI hanya di detik.com/tag/jelajahumkmbri.



Simak Video "#BRIBersamaUMKM"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)