Setahun Corona, Ini Sederet Upaya RI Akhiri Pandemi

Jihaan Khoirunnisaa - detikNews
Sabtu, 06 Mar 2021 16:36 WIB
Presiden Joko Widodo dan Menkes Budi Gunadi Sadikin
Foto: dok. Kemenkes
Jakarta -

Maret 2021 ini, tepat satu tahun sejak COVID-19 melanda Indonesia. Pada 2 Maret 2020 Pemerintah Indonesia mengumumkan kasus pertama pasien terinfeksi virus Corona.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus berupaya mengendalikan pandemi COVID-19 lewat banyak kebijakan. Menurut Sekjen Kemenkes RI Oscar Primadi, upaya yang dilakukan pemerintah dalam setahun terakhir sudah menunjukkan dampak positif. Hal ini dilihat dari tren penanganan Corona yang terus membaik.

"Kalau berbicara soal penanganan pandemi yang sudah kita lewati 1 tahun ini, memang perbaikan dari sisi pengendalian maupun strategi yang kita lakukan saya rasa sudah bisa dirasakan dan sudah menampakkan hasil yang menggembirakan," ujar Sekjen Kemenkes RI Oscar Primadi dalam perbincangan di Radio Kesehatan, Jumat (5/3/2021).

"Perkembangan itu kita rasakan manfaatnya. Saat ini kita lihat meskipun masih ada pandemi COVID, tetapi ada tren perbaikan," tambahnya.

Oscar menjelaskan, dalam rangka pengendalian pandemi pemerintah berfokus pada penguatan 2 pilar, yaitu pilar pemerintah dan masyarakat. Dari sisi pemerintah, Testing, Tracing, dan Treatment atau yang dikenal dengan 3T menjadi domain yang terus digerakkan.

Diungkapkan Oscar, pemerintah telah memperkuat jejaring laboratorium guna memperluas akses masyarakat terhadap pemeriksaan COVID-19. Ia menjelaskan sampai dengan saat ini RI sudah memiliki 637 laboratorium pemeriksaan, baik di pusat, daerah, rumah sakit pemerintah, maupun rumah sakit swasta.

Lewat laboratorium yang tersebar di berbagai daerah, dalam sehari Indonesia bisa memeriksa hingga 70 ribu spesimen terkait Corona. Namun, ia menilai jumlah ini perlu ditingkatkan, mengingat kondisi penyebaran COVID-19 bisa seperti fenomena gunung es.

"Sehari di Indonesia bisa melakukan 60-70 ribu pemeriksaan spesimen. Merupakan suatu yang positif dalam rangka upaya mendeteksi, melihat ke bawah. Sebab fenomena gunung es terjadi pada kasus COVID, karena yang muncul di permukaan sedikit, tapi di bawahnya harus kita lakukan upaya penelusuran secara baik," paparnya.

Lebih lanjut soal tracing, Oscar menyampaikan pihaknya tidak sendiri, melainkan turut menggandeng berbagai pihak, seperti TNI dan Polri, serta vaksinator. Adapun peran TNI-Polri yaitu dengan menurunkan Bhabinkamtibmas serta Babinsa di level desa dan kecamatan.

Tidak hanya sebatas mendeteksi kasus, menurutnya para tracer juga memiliki peran dalam mendampingi pasien terinfeksi selama isolasi mandiri.

"Tidak hanya sekadar menemukan, dia harus mampu meng-guidance, memberikan pemahaman kepada pasien COVID untuk dapat diisolasi mandiri, dan diikuti terus. Ini kita lakukan dalam upaya betul-betul melihat dan mendeteksi semua kasus COVID-19 di Indonesia agar dapat dipertanggungjawabkan data-datanya," ujarnya.

Dari sisi treatment, dijelaskan Oscar saat ini Kementerian Kesehatan telah memiliki 970 rumah sakit rujukan, dari yang semula berjumlah 132 rumah sakit. Seluruh rumah sakit ini yang nantinya akan menangani dan memberikan pelayanan untuk penanganan COVID-19. Tidak hanya itu, Oscar menyebut Kemenkes juga menambah kapasitas tempat tidur.

"Dulu kapasitas tempat tidur hanya 3500 sekarang kita sudah punya 83000 tempat tidur isolasi. Itu sudah termasuk penambahan yang ada di rumah sakit pemerintah, BUMN, TNI-Polri dan rumah sakit swasta," paparnya.

Oscar menilai, pertambahan rumah sakit perlu diiringi dengan peningkatan jumlah tenaga kesehatan. Namun, ia mengatakan jika kini Kementerian Kesehatan sudah memiliki SDM yang memadai, berkat relaksasi aturan mengenai perizinan kerja para tenaga kesehatan (nakes).

"Jadi tidak lagi mengharuskan semacam sesuatu yang bersifat mengikat, misalnya STR harus ada, SIP harus ada. Tetapi sudah direlaksasi dengan ketentuan, kita juga sudah mendapatkan kecukupan dari sisi sumber daya manusia," katanya.

Kemenkes RI pun telah melakukan relaksasi aturan guna mempercepat proses perizinan bagi alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga (PKRT) yang digunakan dalam penatalaksanaan COVID-19, termasuk APD dan masker. Diungkapkan Oscar, saat ini tercatat ada 745 produsen APD dalam negeri yang telah mendapatkan izin. Begitu juga dengan uji klinis alat kesehatan.

Dalam rangka percepatan pemenuhan alat kesehatan ini, Kemenkes juga melakukan pendampingan terhadap pengembang ventilator dari beberapa perguruan tinggi, termasuk ITB, UI, UGM, ITS, sehingga bisa dimanfaatkan. Salah satunya yaitu inovasi GeNose dari UGM.

Oscar berharap, pendampingan tersebut bisa memberikan dampak positif terhadap pengendalian pandemi Corona.

Sementara itu, terkait mutasi virus Corona B117 yang sudah masuk Indonesia, Oscar meminta masyarakat agar tidak cemas berlebihan. Sebab menurutnya, meski virus dari Inggris ini disebut lebih cepat menular, namun tidak menyebabkan kondisi berat pada pasien.

Hal serupa dikatakan Juru Bicara Vaksinasi COVID-19 Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi. Siti menambahkan, sampai dengan saat ini belum ada penelitian yang menunjukkan varian baru virus Corona lebih berbahaya.

"Hingga saat ini, kami belum mendapatkan bukti ilmiah bahwa virus mutasi COVID-19 ini lebih tinggi tingkat keganasannya dibanding virus COVID-19 yang awal, namun, dari beberapa penelitian di negara lain menunjukkan varian virus baru ini lebih cepat menular," terangnya.

Lebih lanjut, Siti menjabarkan alasan virus Corona B117 ini lebih cepat menular. Ia mengatakan, mutasi terjadi pada bagian tanduk yang mempermuah proses masuk virus ke dalam sel sasaran. Hal inilah yang menyebabkan penularan varian baru Corona lebih cepat dibandingkan varian yang lama. Namun, kecepatan penularan mutasi virus tersebut tidak menyebabkan bertambah parahnya penyakit.

Selain itu, Siti pun meyakinkan bahwa adanya varian baru belum mengganggu kinerja vaksin dan vaksin masih terbilang efektif dalam mencegah penyebaran mutasi virus Corona, karena efektivitas inokulasi terhadap virus masih ada di level yang bisa diterima.

"Vaksin yang sekarang digunakan pemerintah masih efektif untuk mencegah penularan mutasi virus sehingga tidak akan mempengaruhi kekebalan kelompok," ujarnya.

Di sisi lain, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenkes, dr. Slamet mengungkapkan, saat ini pemerintah tengah berupaya untuk melakukan langkah antisipasi imported case varian baru virus Corona melalui pelaksanaan Whole Genome Squencing (WGS) atau pengurutan genom menyeluruh, serta memperkuat upaya 3T demi mencegah agar varian Corona B117 tidak semakin meluas.

Oleh karena itu, masyarakat Indonesia diimbau untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan 3M, yaitu memakai masker, mencuci tangan, dan menjauhi kerumunan, serta melakukan vaksinasi COVID-19. Pasalnya, upaya pemerintah tidak akan efektif tanpa kerja sama yang baik dari seluruh komponen bangsa. Hal ini mengingat 3T dan 3M adalah dua hal yang harus bersinergi, dan vaksinasi menjadi bagian penting yang mengikat keduanya.

Simak video 'Fakta Seputar Varian Corona Inggris B117 yang Sudah Masuk RI':

[Gambas:Video 20detik]



(prf/ega)