Sextortion Kian Marak di RI, Ini yang Perlu Dilakukan Jika Anda Jadi Korban

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Jumat, 05 Mar 2021 13:30 WIB
ilustrasi smartphone
Ilustrasi media sosial (Foto: Unspslah)
Jakarta -

Direktorat Tindak Pidana Siber (Dittipidsiber) Bareskrim Polri membagikan tips jika menjadi korban pemerasan seksual online atau sextortion. Apa saja?

Pertama, abaikan permintaan pelaku sextortion. Kasubdit 1 Dittipidsiber Kombes Reinhard Hutagaol meminta korban tak mengindahkan pelaku.

"Jangan melakukan sesuatu yang diminta pelaku. Jadi kalau misalnya minta uang, nggak usah. Nggak usah, istilahnya nggak usah direken-lah," ujar Reinhard melalui dialog 'Waspada Ancaman Pemerasan Seksual di Internet' yang disiarkan kanal YouTube Siber TV, seperti dilihat detikcom, Jumat (5/3/2021).

Kedua, abadikan percakapan dengan pelaku. Reinhard mengatakan hal itu guna menjadi bukti untuk melapor ke polisi.

"Kemudian kalau memang ada chatting, chatting-nya kita screenshot. Nah, itu gunanya apa? Itu sebagai barang bukti yang akan dilaporkan. Itu di-screenshot. Jadi ada percakapan, ada buktinya," tuturnya.

Korban, kata Reinhard, juga harus menginformasikan ke teman-temannya. Selain itu, korban diminta menutup akun media sosialnya.

"Kemudian kita harus kasih tahu tuh ke teman-teman kita. Kita broadcast. Pengumuman, kepada teman-teman yang mendapat gambar ini, harap maklum itu bukan foto saya, itu karena diretas dan lain sebagainya. Kemudian beri tahu kenalan kita," kata Reinhard.

"Kemudian, kita tutup saja sementara akun kita di medsos," imbuh dia.

Reinhard juga mendorong para korban sextortion berani melapor. Sebab, jika tidak melapor, akan ada korban-korban lainnya.

"Ya itulah memang kita akui. Kadang-kadang si pelapor ini, dia tidak berani untuk melaporkan. Karena malunya itu, stres. Diberikan keberanian sih, kalau kayak gini kitanya makin lama makin diperas. Akan menjadi lama, akan menjadi korban pertama, kedua, dan ketiga dan seterusnya dari si pelaku," papar Reinhard.

Tips Agar Tak Jadi Korban Sextortion

Reinhard juga membagikan tips agar tidak menjadi korban pemerasan seksual atau sextortion. Dia meminta agar warga ingat bahwa dunia siber tidak nyata dan jejak digital tidak akan pernah hilang.

"Yang paling utama dulu, ingat. Orang harus ingat, bahwa dunia siber itu bukan dunia yang nyata. Itu fake semua. Siapa pun bisa jadi orang lain. Misalnya kita pasang foto picture profile siapa orang yang ganteng siapa itu bisa. Jadi jangan pernah percaya. Terus jangan pernah membuka lampiran dari siapa pun yang tidak pernah dikenal. Kemudian sadarilah, bahwa apa pun yang dilakukan secara online itu pasti ada jejak digitalnya. Jejak digital itu tidak akan hilang selamanya. Selamanya tidak akan hilang, pasti ada," papar Reinhard.

Simak selengkapnya di halaman berikutnya?

Selanjutnya
Halaman
1 2