Kata Pemotor soal Jalur Sepeda Permanen di Sudirman-Thamrin

Sachril Agustin Berutu - detikNews
Jumat, 05 Mar 2021 13:02 WIB
Jalur sepeda di Sudirman-Thamrin (Sachril/detikcom)
Foto: Jalur sepeda di Sudirman-Thamrin (Sachril/detikcom)
Jakarta -

Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta membuat jalur sepeda permanen di Jalan Sudirman-Thamrin. Pengendara motor mengkritik jalur sepeda permanen yang sedang dalam tahap uji coba ini.

"Kegedean jalurnya (jalur sepeda permanen). Kalau menurut saya kegedean jalurnya. Itu kan sekitar 1,5 meter kali, ya. Mungkin (jalur sepeda permanen) sekitar 1 meter cukup kali," ujar pengendara motor, Firman (35), saat ditemui di Jalan Baturaja, Jakarta Pusat, Jumat (5/3/2021).

Karena jalur sepeda permanen terlalu lebar, Firman mengatakan Jalan Sudirman-Thamrin menjadi lebih macet. Selain itu, menurutnya, jalur sepeda permanen yang diberi pembatas dengan beton membahayakan. Dia pun ingin agar lebar jalur khusus pesepeda ini diperkecil.

"Ya ngaruh juga (jalur sepeda permanen) kalau lagi jam sibuk jadi tambah macet. Kebetulan motor (di) jalur kiri, sedangkan buat mobil aja 3 jalur aja kadang masih ambil ke kiri juga, (ke) jalur motor. Kalau ke jalur tengah, bahaya juga sih soalnya di sini banyak, apa ya, kayak lubang buat air gitu kan di tengah, jalan nggak rata," ucapnya.

"Menurut saya kalau dipermanen dibeton gitu bahaya juga buat pengendara motor. Lebih bahaya sih buat pengendara motor, kalau kesenggol itu kan, pasti mental ke kiri lah (lalu terkena pembatas beton)," tambah Firman.

Senada dengan Firman, pengendara motor lainnya, Ipay (28) mengatakan jalur sepeda permanen membuat jalan lebih macet. Ipay mengungkapkan banyak pengendara sepeda motor yang melintas di jalur sepeda bila sedang macet.

"Kalau nggak ada yang jagain sih pasti ada aja yang lewat karena kalau akses paling cepat kan tuh jalur sepeda yang buat belok. Kayak belok sini nih, yang masuk-masuk daerah pas belok, itu kita bisa masuk lewat situ kalau lagi macet (agar lebih cepat sampai). Tapi kalau lagi ada yang jaga mungkin nggak bisa masuk," ujar Ipay.

Jalur sepeda permanen di Sudirman-Thamrin (Sachril/detikcom)Foto: Jalur sepeda permanen di Sudirman-Thamrin (Sachril/detikcom)

"Iya (saya juga melintas di jalur sepeda) karena kan kalau lagi keadaan urgent atau gimana buru-buru juga. Namanya kerja pasti ada buru-buru juga," ungkapnya.

Pengendara motor lainnya, Saepudin (56) menganggap jalur sepeda permanen di Sudirman-Thamrin bagus. Sebab, katanya, udara menjadi lebih segar, polusi akan berkurang, dan orang-orang menjadi lebih sehat karena bersepeda.

Dia pun berharap agar jalur sepeda diperbanyak. Saepudin tidak merasa jalur sepeda di Sudirman-Thamrin membuat kemacetan.

"Nggak (macet) lah. Kalau sepeda jadi orang pada sehat kalau pakai sepeda. Kalau mobil kan bikin macet, yang naik 1, 2 (orang), mubazir jalan. Saya dukung jalur sepeda karena saya juga suka pakai sepeda lah," kata Saepudin.

Sebelumnya, banyak pemotor menyerobot jalur sepeda permanen di kawasan Sudirman-Thamrin selama uji coba. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mendorong penerapan sanksi bagi pemotor yang bandel.

"Untuk itu, jalan itu nanti kita akan tertibkan dan atur ke depan, kalau masih ada yang nyerobot tentu perlu ada peningkatan pengawasan, ketentuan, aturan dan sanksi mungkin bisa kita berlakukan ke depan. Nanti kita akan lihat, yang penting sekarang kita dukung peningkatan (jalur sepeda)," kata Ahmad Riza Patria di Balai Kota DKI Jakarta, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (4/3).

Politikus Gerindra ini kemudian berbicara mengenai etika saling menghormati. Menurutnya, seharusnya pemotor bisa menghargai para pesepeda yang melintasi jalur ini. Begitu pula para pesepeda, diharapkan tertib melintas di jalur yang telah disediakan.

"Kami minta dapat digunakan sebaik mungkin hanya bagi pengguna sepeda. Dan pengguna sepeda juga jangan keluar dari jalur yang sudah dibuat. Dan juga para pengendara motor akan berikan kesempatan dan mendahului pengguna sepeda di jalur sepeda. Pengendara motor jangan masuk di jalur sepeda," jelasnya.

(sab/isa)