Pengurus PDP Sering Keseleo Lidah Sebut PDIP
Minggu, 26 Feb 2006 21:28 WIB
Jakarta - Sejumlah petinggi Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) terkadang sering keseleo lidah menyebut partainya. Mereka terkadang menyebut partainya dengan sebutan PDIP.Ini terlihat ketika acara pelantikan Pengurus Pimpinan Kolektif Kota (PKK) PDP Solo di Gedung Boga Sriwedari, Solo, Minggu (26/2/2006). Beberapa kali pembawa acara secara tindak sengaja salah menyebut partainya, bukan PDP tetapi malah PDIP.Bukan hanya pembawa acara, bahkan Ketua Pimpinan Kolektif (KPK) PDP Jawa Tengah Mardijo, juga sering melakukan hal serupa. Untuk kejadian seperti Mardijo segera membuat klarifikasi sekaligus untuk memberi tekanan khusus hengkang dia dari partai banteng bulat dalam lingkaran tersebut."Maaf kalau saya salah menyebut PDP dengan PDIP. Hal itu karena dulu saya mati-matian membela PDIP tapi sekarang saya malah dimatikan," ujarnya. Sontak pernyataan Mardijo ini disambut tepuk tangan oleh hadirin.Mardijo semula adalah Ketua DPD PDIP Jawa Tengah. Dia dipecat dari jabatan dan keanggotaan partai itu karena dinilai melawan perintah DPP PDIP dalam Pemilihan Gubernur Jawa Tengah tahun 2003. Mardijo tetap maju sebagai calon gubernur, sedang DPP memberikan rekomendasi kepada Mardiyanto, gubernur Jawa Tengah sebelumnya.Bukan SempalanSecara kesejarahan PDP lahir karena konflik internal di tubuh PDIP pasca-kongres di Bali tahun 2005. Bahkan para petingginya juga berasal dari kader-kader PDIP yang kecewa. Namun mereka menampik jika partainya disebut sebagai partai sempalan dari PDIP.Ketua Pimpinan Kolektif Nasional (PKN), Roy BB Janis, juga menegaskan hal itu. Mantan Ketua DPP PDIP dan mantan Ketua Fraksi F-DPIP DPR RI itu mengatakan bahwa PDP adalah partai baru, bukan sempalan dari partai manapun."Kalau PDP sempalan PDIP, seharusnya yang datang dalam acara ini adalah eks anggota PDIP saja. Namun kenyataannya, yang datang juga berasal dari eks anggota partai-partai lainnya," kata Roy.Namun kepada wartawan sesuai acara, Roy menyiratkan peran penting para eks kader PDIP pada keberadaan PDP. "Kalau dalam partai saya dulu, kecenderungannya adalah kekuasaan di tangan perorangan. Kader-kader terbaik tidak akan mau di bawah kekuasaan perorangan, sehingga ikut PDP," cetusnya.Selain Roy, para pendiri PDP juga hadir dalam acara tersebut. Diantaranya Sekjen PDP Didi Supriyanto, Sukowaluyo Mintoharjo, Abdul Madjid dan lain-lain. Mereka semua adalah mantan kader PDIP. Bahkan Abdul Madjid adalah salah satu tokoh penting PNI yang ikut memprakarsai berdirinya PDI sebagai hasil parpol pada tahun 1973.
(mar/)











































