Indonesia Serukan Aparat Myanmar Tak Pakai Kekerasan Hadapi Pendemo

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Senin, 01 Mar 2021 13:34 WIB
A wounded protester is carried during a protest against the military coup in Mandalay, Myanmar, Sunday, Feb. 28, 2021. Security forces in Myanmar used lethal force as they intensified their efforts to break up protests a month after the military staged a coup. At least four people were reportedly killed on Sunday. (AP Photo)
Ilustrasi demo antikudeta di Myanmar (Foto: AP/)
Jakarta -

Indonesia menyerukan aparat keamanan di Myanmar tak menggunakan kekerasan guna mencegah situasi semakin memburuk. Indonesia meminta pihak aparat keamanan Myanmar menahan diri.

"Indonesia menyerukan agar aparat keamanan tidak menggunakan kekerasan dan menahan diri guna menghindari lebih banyak korban jatuh serta mencegah situasi tidak semakin memburuk," demikian pernyataan Indonesia mengenai perkembangan situasi di Myanmar seperti dilansir dari situs Kemlu, Senin (1/3/2021).

Indonesia menyampaikan rasa prihatin atas meningkatnya kekerasan di Myanmar. Sejumlah orang dilaporkan meninggal dunia dan terluka.

"Ucapan dukacita dan bela sungkawa yang mendalam kepada korban dan keluarganya," lanjut pernyataan tersebut.

Untuk diketahui, demonstrasi antikudeta di Myanmar semakin panas. 18 orang pendemo diduga tewas akibat kekerasan yang dilakukan aparat.

Dilansir dari Reuters, Senin (1/3), massa diduga mendapatkan serangkaian serangan dari petugas keamanan Myanmar. Gas air mata, peluru karet, hingga granat setrum diarahkan ke kerumunan massa. Namun, serangan-serangan itu gagal membubarkan massa.

Demonstran terlihat mengenakan helm plastik dan perisai darurat untuk berhadapan dengan polisi dan tentara. Kantor hak asasi manusia PBB menginfokan ada belasan pendemo yang meninggal dunia karena serangan polisi Myanmar.

"Polisi dan pasukan militer menghadapi demonstrasi damai, namun menggunakan kekuatan yang mematikan -menurut informasi yang dapat dipercaya yang diterima oleh Kantor Hak Asasi Manusia PBB- telah menyebabkan sedikitnya 18 orang tewas dan lebih dari 30 luka-luka," kata kantor hak asasi manusia PBB seperti dilansir dari Reuters.

Beberapa pengunjuk rasa di Yangon tampak dibopong oleh sesama pendemo. Bercak darah berceceran di jalanan. Seorang dokter yang meminta namanya tidak disebutkan mengatakan seorang demonstran pria meninggal dunia dengan luka tembak di dadanya.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres meminta militer Myanmar untuk menerima aspirasi masyarakat.

"Sekretaris Jenderal mendesak masyarakat internasional untuk berkumpul dan mengirimkan sinyal yang jelas kepada militer bahwa mereka harus menghormati keinginan rakyat Myanmar seperti yang diungkapkan melalui pemilihan dan menghentikan penindasan," kata juru bicara PBB, Stephane Dujarric.

Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken mengutuk aksi kekerasan ini. Blinken menyebut penembakan terhadap pendemo merupakan aksi yang 'menjijikkan'.

"Kami berdiri teguh dengan orang-orang yang berani di Burma dan mendorong semua negara untuk berbicara dengan satu suara untuk mendukung keinginan mereka," kata Blinken di Twitter-nya.

(knv/fjp)