Lapan Jelaskan Penyebab Curah Hujan di Jakarta Berkurang pada Akhir Februari

Muhammad Ilman Nafian - detikNews
Senin, 01 Mar 2021 12:14 WIB
Ilustrasi hujan lebat
Foto ilustrasi (iStock/Willowpix)
Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) menyebut intensitas hujan di wilayah Jakarta pada akhir Februari 2021 telah berkurang. Hal itu terjadi karena pengaruh aktivitas vorteks Borneo.

Peneliti Pusat Sains dan Teknologi Antariksa (PSTA) Lapan, Erma Yulihastin, mengatakan aktivitas vorteks Borneo itu mulai terlihat pada (21/2) dini hari. Dia mengatakan saat itu intensitas hujan berkurang, padahal sehari sebelumnya intensitas hujan di Jabodetabek masih tergolong ekstrem, yakni 266 mm.

"(Tanggal) 21 Februari dini hari kembali terjadi hujan di sekitar Jakarta namun intensitas telah jauh berkurang dan aktivitas konveksi bersifat lokal serta cepat terurai (1-2 jam). Sepanjang hari itu kawasan di Jawa bagian barat, termasuk di Selat Sunda, minim awan dan hujan. Pelemahan di bagian barat Indonesia tersebut dipengaruhi oleh aktivitas vorteks Borneo. Kondisi ini berlangsung hingga 22 Februari dan menjadi penyebab cuaca yang cenderung cerah selama dua hari wilayah di Jawa bagian barat pada 21-22 Februari," ujar Erma kepada wartawan, Senin (1/3/2021).

Dalam 'KBBI','vorteks diartikan sebagai cairan atau gas yang partikelnya bergerak berputar. Selanjutnya, pada 23 Februari terjadi pembentukan siklon tropis (TC 98S) di Samudra Hindia yang berada di selatan kawasan Nusa Tenggara sehingga menarik udara. Hal itu menyebabkan terjadi peningkatan angin barat di Jawa bagian tengah dan timur.

"Pergerakan angin kencang ini membuat proses pembentukan awan dan hujan tidak terjadi di Jawa bagian barat. Pada 24-25 Februari, seiring dengan pergerakan TC 98S ke arah barat, angin dari utara yang berasosiasi dengan aktivitas Cross Equatorial Northerly Surge (CENS) mulai terbentuk kembali dan mencapai kekuatan maksimal pada 26 Februari, sehingga kembali menyebabkan hujan dinihari dengan intensitas sedang di Jakarta dan sekitarnya," katanya.

Meski kembali hujan, kata Erma, kawasan Jakarta tidak dilanda hujan ekstrem pada (26/2). Hal itu terjadi karena adanya angin dari utara yang ditarik oleh TC 98S.

"Sekalipun terjadi hujan dengan intensitas sedang, pada dini hari tanggal 26 Februari tidak terjadi hujan ekstrem persisten yang bisa menimbulkan banjir karena angin yang berasal dari utara ditarik oleh TC 98S. Angin dari utara Jakarta mengalami pergerakan cepat melalui daratan Jakarta sehingga menggagalkan konvergensi. Angin kencang inilah yang sempat terasa di daerah Cilincing, Jakarta Utara, pada Jumat lalu. Pergerakan angin kencang ini sampai ke Selatan Jawa. Kejadian angin kencang di Cilincing, Jakarta utara ini sebelumnya sudah diprediksi dengan baik oleh Decision Support System (DSS), Satellite based Disaster Early Warning System (Sadewa) milik Lapan," katanya.

Saksikan juga 'Prakiraan Cuaca BMKG: Waspada Hujan Bedurasi Lama!':

[Gambas:Video 20detik]



(man/haf)