Aksi Mogok Makan SUTET
Mahasiswa Unas Terkapar
Minggu, 26 Feb 2006 15:18 WIB
Jakarta - Aksi mogok makan dan jahit mulut meminta ganti rugi SUTET tidak hanya dilakukan para korban. Buktinya, Yadi, mahasiswa Unas melakukan hal serupa. Tapi kini Yadi tergolek di rumah sakit.Yadi adalah mahasiswa Universitas Nasional (Unas) jurusan administrasi negara angkatan 2001. Merupakan mahasiswa terakhir yang tumbang dalam aksi solidaritas perjuangan untuk korban SUTET dengan menjahit mulutnya. Dia kini tergolek lemah di Rumah Sakit (RS) Siaga Pejaten.Meski jahitan mulutnya sudah dibuka, Yadi masih belum bisa berbicara. Dokter yang mendiagnosis menyebutkan, Yadi terkena asam lambung tinggi yang membuatnya hanya bisa menerima asupan dari infus.Saat dijenguk di ruang kelas III Amatis Satu RS Siaga Pejaten Jakarta, Minggu (26/2/2006) dengan lemas Yadi menyalami detikcom, disampingnya teman-temannya setia menunggunya. Tidak terlihat satu pun keluarganya.Mora salah satu temannya mengisahkan, Yadi mulai ikut aksi jahit mulut sejak 30 Januari 2006. Tiba-tiba dihari ke-27, mahasiswa asal Cirebon itu ambruk tak sadarkan diri karena perutnya yang kram saat mengikuti aksi mengumpulkan tanda tangan dan cap jempol darah di Terminal Pasar Minggu pada Sabtu (25/2/2006) malam.Sohib-sohib seperjuangannya yang mengatasnamakan Front Nasional langsung melarikannya ke rumah sakit terdekat. Beruntung nyawanya tertolong setelah pingsan selama 45 menit."Biaya perawatan ditanggung dari dana solidaritas, sampai saat ini belum ada tanggapan dari rektor. Baru Pudek (Pembantu Dekan) III yang menjenguk," keluh Mora.Dokter kabarnya juga akan melakukan cek laboratorium, karena dikhawatirkan ginjalnya juga terkena.Ketika ditanya kenapa tak ada satupun keluarganya datang? Menurut Mora karena keluarga Yadi tinggal cukup jauh di Cirebon. Meski demikian, keluarga Yadi mendukung sepenuhnya apa yang telah dilakukan Yadi.Sebelumnya David dan Andre yang juga mahasiswa Universitas Nasional Jurusan Hubungan Internasional angkatan 2005 yang melakukan aksi serupa telah dirawat di rumah sakit. Saat ini keduanya sudah mulai pulih."Kami tidak akan menghentikan aksi ini, rencananya Rabu (1/3/2006) ada tiga teman kami yang akan melanjutkan perjuangan ini," tegas Mora.
(arn/)











































