Kilas Balik Ketokan Palu Artidjo: Angelina Sondakh hingga Eks Ketum Parpol

Andi Saputra - detikNews
Minggu, 28 Feb 2021 16:10 WIB
Artidjo Alkostar
Artidjo Alkostar (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Mantan hakim agung yang kini berstatus sebagai anggota Dewan Pengawas KPK, Artidjo Alkostar, meninggal dunia. Sosoknya dikenang oleh Menko Polhukam Mahfud Md sebagai penegak hukum yang penuh integritas. Hal itu terbukti selama 18 tahun menjadi hakim agung, Artidjo tidak pernah sedikit pun terkena isu korupsi/suap. Siapa saja yang pernah ia adili?

Nama Artidjo disodorkan Menteri Kehakiman kala itu, Yusril Ihza Mahenda, menjadi hakim agung. Setelah itu, namanya lolos di DPR dan dia menjadi hakim agung selama 18 tahun hingga Mei 2018. Puluhan ribu perkara ia adili. Salah satunya kasus korupsi mantan presiden Soeharto.

"Saya per tanggal 22 Mei sudah purnatugas. Saya berkontribusi 18 tahun, saya sudah menangani 19.708 berkas perkara. Saya meluangkan waktu berkhidmat kepada Mahkamah Agung khusus dalam penegakan hukum di MA. Tentu masih banyak kekurangan. Untuk selanjutnya mudah-mudahan MA menjadi lebih baik. Saya percaya pengganti saya jadi lebih baik," kata Artidjo saat jumpa pers perpisahan pada 2018.

Puluhan ribu perkara ia adili. Salah satunya kasus korupsi mantan Presiden Soeharto. Saat itu kasus Soeharto ditutup oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) karena Soeharto menderita sakit permanen.

Jaksa kasasi dan perkara itu diadili oleh Syafiuddin Kartasasmita (Ketua Muda MA bidang Pidana), Sunu Wahadi, dan Artidjo Alkostar. Ketiganya menyatakan penuntutan JPU terhadap terdakwa HM Soeharto sudah dapat diterima dan memerintahkan JPU melakukan pengobatan terhadap terdakwa sampai sembuh atas biaya negara.

Setelah sembuh, terdakwa dapat dihadapkan kembali ke persidangan. MA juga menyatakan melepaskan terdakwa dari tahanan kota dan membebankan biaya perkara dalam semua tingkat pengadilan kepada negara.

"Waktu awal saya jadi hakim agung tahun 2000-an, saya pernah tangani perkara Presiden Soeharto. Waktu itu presiden sakit lalu ketua majelisnya, Pak Syafiuddin Kartasasmita, yang ditembak, saya menjadi salah satu anggotanya," kata Artidjo.

"Waktu itu dianukan, karena supaya berkas dikembalikan tapi keputusan di majelis, Soeharto harus tetap diadili sampai sembuh dengan biaya negara. Jadi ada alasan argumentasi yuridisnya," ujar Artidjo.

Setelah menangani kasus korupsi Presiden Soeharto, langkah Artidjo menjadi enteng.

"Saya kira banyak (kasus) lainnya karena saya anggota juga tentang pembubaran Golkar dulu juga yang lain-lain. Presiden masalah aja saya adili, apalagi presiden partai. Nggak ada masalah bagi saya, tidak ada kendala apa pun. Jadi selama saya tangani perkara Soeharto, perkara lain kecil aja buat saya," ujarnya.

Presiden partai yang dia adili sudah banyak. Seperti saat Artidjo mengadili Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaaq (LHI) dalam kasus korupsi. Artidjo menambah hukuman penjara Luthfi dari 16 tahun menjadi 18 tahun, serta mencabut hak politik mantan anggota DPR dari Fraksi PKS ini.

"Menolak kasasi terdakwa karena hanya merupakan pengulangan fakta yang telah dikemukakan dalam pengadilan tingkat pertama dan tingkat banding," jelas Artidjo.

Artidjo pulalah yang menjadi ketua majelis terhadap mantan Ketum Partai Demokrat (PD) Anas Urbaningrum dalam kasus korupsi dan pencucian uang. Artidjo memperberat hukuman Anas dari 8 tahun penjara menjadi 14 tahun penjara. Belakangan, hukuman Anas disunat menjadi 8 tahun penjara.

Siapa yang menyunat hukuman Anas? Yaitu Wakil Ketua MA Sunarto.

Selain itu ada pula mantan Ketua MK Akil Mochtar. Akil Mochtar mendagangkan putusan di lembaganya. KPK mengendus dan mencokoknya pada 2013. Terungkap permainan jahat Akil di mahkamah yang menjaga konstitusi itu.

Akil lalu dihukum penjara seumur hidup atau ia harus meninggal hingga mati. Vonis ini diketok oleh Pengadilan Tipikor Jakarta, Pengadilan Tinggi (PT) Jakarta dan kasasi. Duduk sebagai majelis kasasi adalah Artidjo Alkostar, MS Lumme, dan Krisna Harahap.

Ada pula Angelina Sondakh. Putri Indonesia 2001 itu dihukum 12 tahun penjara oleh Artidjo Alkostar, MS Lumme, dan M Askin, di tingkat kasasi.

Tapi di tingkat PK, hukuman Angie diubah menjadi 10 tahun oleh trio Syarifuddin-Andi-Syamsul. Selain itu, harta Angie yang dirampas dikurangi setengahnya menjadi Rp 20 miliaran.

Kasus terakhir yang menarik perhatian publik dan ditangani Artidjo adalah saat menjadi ketua majelis PK atas terdakwa Ahok. Putusan itu diketok secara bulat oleh Artidjo Alkostar, Salman Luthan, dan Margiatmo. Ketiganya menyatakan tidak menemukan kekhilafan dalam putusan Ahok.

Saksikan video 'Artidjo: Selama Tangani Soeharto, Kasus Lain Tak Ada Masalah':

[Gambas:Video 20detik]



(asp/dhn)