Ketum PAN: Recall terhadap Djoko Edhi Bisa Dicabut
Sabtu, 25 Feb 2006 17:18 WIB
Jakarta - Anggota dari Fraksi Partai Amanat Nasional (FPAN) Djoko Edhi Abdurrahman masih punya kesempatan untuk menikmati empuknya kursi DPR. Sebab, putusan recall terhadapnya bisa dicabut, bila Badan Arbitrase berkehendak. Hal ini disampaikan Ketua Umum DPP PAN Soetrisno Bachir kepada wartawan di Restoran Pulau Dua, Senayan, Jakarta, Sabtu (25/2/2006). "Saat ini, masalah recall sedang diproses di Badan Arbitrase Partai. Djoko Edhi menyatakan tidak terima dengan hasil voting tersebut, makanya dia banding di Arbitrase," kata Soetrisno. Proses di arbitrase berupa sidang yang akan mendengarkan pembelaan dari Djoko Edhi sebagai pemohon. Pihak-pihak yang akan hadir dalam sidang arbitrase adalah Majelis Pertimbangan Partai (MPP), DPP, pemohon dan termohon. "Jika alasannya disetujui dan diterima, Badan Arbitrase bisa saja membatalkan hasil keputusan yang merecall Djoko Edhi dari DPR dan memecat dari pengurus DPP," ungkap dia. Meski Djoko Edhi banding ke Badan Arbitrase, namun menurut Soetrisno, proses recall terhadap Djoko Edy akan berjalan terus. Selama proses recall dan arbitrase berlangsung, Djoko Edhi tetap bisa beraktivitas sebagai anggota DPR. "Proses ini tidak sebentar, bisa 6 bulan," kata dia. Selanjutnya Soetrisno juga menanggapi pernyataan Djoko Edhi yang menuding rapat pleno diundur terus, sehingga dirinya direcall. "Saya justru memberikan dia kesempatan untuk bisa meyakinkan kepada pengurus yang memiliki suara agar bisa menerima penjelasan dia. Lihat saja, selisihnya kan hanya 11 suara," ungkap Soetrisno. Sebenarnya, kata Soetrisno, suasana pada saat itu, semua peserta mendukung Djoko Edhi. "Tapi, hasil akhirnya seperti itu. Itulah demokrasi di PAN," tutur politisi yang pengusaha ini. Sebelum rapat pleno digelar, kata Soetrisno, sebenarnya ada konstituen dari DPD dan DPC se-Madura datang ke DPP PAN yang juga meminta Djoko Edhi di-recall. Pada kesempatan itu, Soetrisno juga menyampaikan, terkait pendulangan suara PAN di tahun 2009, pihaknya merekrut tokoh-tokoh lokal di daerah. Hal ini dilakukan Soetrisno, karena dirinya sadar bukan tokoh terkenal seperti Amien Rais.
(asy/)











































