Ketua MPR Ajak Generasi Muda Tegakkan Ideologi Bangsa

Inkana Putri - detikNews
Sabtu, 27 Feb 2021 15:32 WIB
Ketua MPR RI Bambang Soesatyo
Foto: Dok. MPR
Jakarta -

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengajak generasi muda untuk menegakkan benteng ideologi bangsa. Pasalnya, saat ini generasi muda tak hanya menghadapi tantangan pandemi melainkan berbagai tantangan seperti lemahnya rasa toleransi dalam keberagaman, demoralisasi, hingga pudarnya jati diri dan karakter bangsa.

"Melemahnya rasa toleransi dalam keberagaman dapat kita rujuk pada data yang diungkapkan SETARA Institut. Dalam kurun waktu tahun 2014 hingga 2019, rata-rata setiap satu bulan terjadi 14 peristiwa pelanggaran kebebasan beragama," ujar Bamsoet dalam keterangannya, Sabtu (27/2/2021).

"Masih sering kita saksikan penyalahgunaan politik identitas dalam kontestasi politik, yang mendorong terjadinya polarisasi masyarakat pada dua kutub berseberangan dan bermuara pada konflik horizontal dan konflik sosial," imbuhnya saat memberikan kuliah Bela Negara ke mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Siliwangi, secara virtual di Jakarta.

Dalam kesempatan tersebut, Bamsoet menjelaskan demoralisasi generasi muda bangsa dapat merujuk pada laporan catatan tahunan Komnas Perempuan. Adapun sepanjang tahun 2020, kekerasan seksual dilakukan oleh generasi muda pada ranah komunitas 62,7% dan pada ranah privat 61,2%.

Di samping itu, berdasarkan hasil survei Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Juni 2019, tercatat sebanyak 2,3 juta pelajar dan mahasiswa pernah mengkonsumsi narkotika.

"Memudarnya jati diri dan karakter bangsa telah menjadi fenomena yang dapat kita rasakan seiring laju perkembangan dan dinamika zaman. Identitas nasional kita sebagai manifestasi nilai luhur budaya yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan kebangsaan seakan mulai tergerus oleh masuknya nilai budaya asing yang masuk melalui derasnya arus globalisasi. Bisa jadi, generasi penerus kelak tidak lagi mengenal istilah kerja bakti, gotong royong, serta musyawarah untuk mufakat," jelasnya.

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menyampaikan memudarnya jati diri dan karakter bangsa semakin melengkapi hasil survey Komunitas Pancasila Muda pada akhir Mei 2020. Dari survei tersebut, hanya 61% responden yang merasa yakin dan setuju bahwa nilai-nilai Pancasila sangat penting dan relevan dengan kehidupan mereka.

Sementara itu, 19,5% bersikap netral, dan 19,5% lainnya menganggap Pancasila hanya sekedar istilah yang tidak dipahami maknanya.

"Selain berbagai tantangan kebangsaan yang disebutkan tadi, saat ini pun kita harus mewaspadai adanya potensi ancaman kedaulatan negara di tengah cengkeraman hegemoni ekonomi-politik dunia. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, kita adalah negara yang kaya akan potensi sumber daya laut. Menurut badan pangan dan pertanian dunia (FAO), potensi lestari sumber daya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 12,54 juta ton per tahun. Belum lagi potensi sumberdaya alam lain yang terkandung di dalamnya," ungkapnya.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menambahkan membangun benteng ideologi juga tak kalah penting dari membangun benteng dan kekuatan fisik. Dalam hal ini, MPR berperan penting dalam mengemban visi sebagai 'Rumah Kebangsaan, Pengawal Ideologi Pancasila dan Kedaulatan Rakyat'.

"Sebagai rumah kebangsaan, MPR harus dapat menjembatani berbagai arus perubahan, pemikiran, serta aspirasi masyarakat dan daerah. Sebagai pengawal ideologi Pancasila, MPR mempunyai peran dan tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan nilai-nilai luhur Pancasila, dan menjadikan Pancasila sebagai rujukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara," pungkasnya.

(akd/ega)