Megapolitan Masih Hanya Mimpi
Sabtu, 25 Feb 2006 15:10 WIB
Jakarta - Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso mewacanakan konsep megapolitan bagi kota Jakarta dan sekitarnya. Namun, konsep megapolitan ini masih dianggap hanya mimpi. Sebab, konsep metropolitan yang sedang dilakukan belum selesai. "Kalau megapolitan, metropolitan atau pun namanya dibuat, distribusi penduduk tidak digarap pemerintah nasional maka akan sama saja," kata Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat, Setia Hidayat dalam diskusi 'Menggagas Megapolitan yang Berkeadilan' di gedung Graha Pena, Jl. Kebayoran lama, Jakarta Selatan, Sabtu (25/2/2006). Tingkat kepadatan penduduk Jawa Barat, Banten, dan Jakarta sebenarnya mirip. Di Jawa Barat, dari 40 juta penduduk, 1,8 juta orang adalah kaum miskin dan 2,6 juta lainnya sebagai pengangguran. "Kalau di Jakarta terus dibangun prasarana nasional dan internasional, jangan heran kalau masyarakat daerah lain masuk ke Jakarta," ungkap dia. Dalam pandangan Setia, Pemerintah Provinsi DKI sangat serakah karena menampung hampir semua kegiatan. Padahal, sebaiknya fungsi-fungsi perdagangan atau jasa sebaiknya dipindah ke daerah-daerah buffer (penyangga). Namun, hal ini sangat tergantung pada pembuat kebijakan. Pada awalnya, kata Setia, sempat ada rencana pembuatan Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi) Metropolitan. Namun, hingga kini tidak terlaksana, dengan alasan biaya yang mahal. "Benahi dulu metropolitan baru kita ke megapolitan. Keluarkan pasar induk beras, ikan atau pun sayur mayur dari Jakarta, kami siap menampung," tegas Setia. Setia Hidayat memahami metropolitan sebagai gabungan polis (kota) dengan tata kota yang lebih baik dan moderen. Sementara megapolitan sebagai gabungan dari metropolis itu. Menurut dia, konsep metropolitan belum sepenuhnya terbentuk. "Karena sistem transportasi, drainase, dan hal-hal lain yang dibutuhkan sehari-hari masyarakat kota belum benar-benar bisa diperoleh. Jadi perbaiki dulu metropolitan," ujar dia. Sementara di acara yang sama, Kepala Biro Pemerintah Provinsi Banten Syafruddin menyatakan, alangkah baiknya apabila sarana transportasi yang telah berkembang cepat di Jakarta juga dikembangkan di daerah sekitarnya. "Kita sering membangun dan memperbaiki jalan, tapi rusak-rusak terus, soalnya banyak kontainer-kontainer besar ke Jakarta yang hilir mudik di jalan itu," ujar dia. Banten sebenarnya mendukung konsep megapolitan. Namun, rencana ini harus dilaksanakan secara bertahap dan tidak dipaksa. "Jangan sampai nanti tempat kami menjadi tempat penyimpanan masyarakat miskin yang tergusur dari ibukota," kata dia.
(asy/)











































