Round-Up

Duduk Perkara Kritik Kebijakan Rektor Berujung DO untuk 3 Mahasiswa

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 25 Feb 2021 23:14 WIB
Aksi yang digelar mahasiswa di gedunh rektorat beberapa waktu lalu
Aksi yang pernah digelar mahasiswa Unilak (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Tiga mahasiswa di Universitas Lancang Kuning (Unilak), Pekanbaru, diberhentikan alias drop out (DO) dari kampus. Mereka menduga kampus tidak terima dengan kritik yang mereka suarakan. Begini duduk perkara masalah ini.

Tiga mahasiswa yang diberhentikan adalah Cep Permana, George Tirta, dan Cornelius. Dalam surat nomor 028/Unilak/Km/2021, 029/Unilak/Km/2021 dan surat keputusan 030/Unilak/Km/2021 menjelaskan bahwa Cep Permana, George Tirta, dan Cornelius diberhentikan.

"Benar, saya, Cep Permana, dan Cornelius diberhentikan dari Universitas Lancang Kuning. Surat pemberhentian kita terima pekan lalu," ujar George kepada detikcom, Rabu (24/2/2021).

Diakui George, pemberhentian itu setelah ada gelombang aksi berturut-turut sejak 2020. Dia bersama mahasiswa meminta penjelasan rektor terkait skripsi yang dijual, penebangan pohon, dan Rektor Unilak Junidi yang dinilai mengintervensi organisasi mahasiswa.

"Kami memang menggelar aksi, tetapi itu semua terkait tak adanya transparansi di kampus. Terkait skripsi, soal penebangan pohon, dan intervensi organisasi," katanya.

George juga mengaku dijemput polisi pada Rabu (17/2). Saat itu, dia dan mahasiswa tengah menggelar aksi protes di halaman gedung rektorat dan ruang Rektor Junaidi.

Bersama dua rekannya, George mengaku kaget menerima surat pemberhentian dari rektor. Surat ditandatangani pada 18 Februari lalu, yang disebutnya tidak ada dasar atau alasan pasti.

"Tak dijelaskan alasan diberhentikan apa. Kami terima surat pemberhentian, semua kaget, sudah ditanyakan langsung tidak ada juga penjelasan di mana salah kami," ujar mahasiswa Fakultas Hukum semester VIII tersebut.

Sebelum menerima surat pemberhentian, George mengakui sempat mengadukan permasalahan kampus ke Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah 10 di Sumatera Barat.

"Kami aksi, kami adukan ke LL Dikti yang ada di Sumbar dan tidak ada penjelasan. Saya akui ada aksi menduduki ruangan Rektor, itu karena aspirasi tidak diterima," katanya.

Terakhir, George mengaku pemberhentian diduga karena mereka kerap mengkritik kebijakan Rektor. Bahkan kritik itu dilakukan sejak dirinya aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Lancang Kuning.

"Kami tidak ada masalah diberhentikan kalau jelas. Tetapi mungkin Rektor berpikir kita mengkritik terus, jadi dikeluarkanlah dari kampus," imbuh mahasiswa yang sedang menunggu jadwal sidang skripsi itu.

Bagaimana respons kampus Unilak? Klik halaman selanjutnya >>>

Selanjutnya
Halaman
1 2