Gajah Rusak Rumah, Satu Tewas
Sabtu, 25 Feb 2006 00:37 WIB
Kampar - Empat rumah penduduk di Kabupaten Bengkalis dirusak kawanan gajah. Sedangkan di Kabupaten Kampar-Riau satu orang tewas di injak-injak gajah. Duh!Inilah konfik gajah dengan manusia yang tak kunjung berakhir di Riau. Habitat binatang terbesar ini telah porak poranda disebabkan berbagai hal. Mulai soal ilegal logging sampai dengan peralihan kawasan hutan menjadi perkebunan kelapa sawit milik perusahan berskala nasional dan milik masyarakat.Sudah lebih sepuluh tahun konflik ini terjadi di Riau. Pemerintah daerah dan pusat, seakan tidak ambil peduli dengan kondisi yang ada. Buktinya, Muhamad Nasir (48) warga Desa Petapahan, Kabupaten Kampar, Riau tewas mengenaskan diinjak-injak gajah liar.Menurut aktivis lingkungan Tropika, Harijal Jalil kepada detikcom, Jumat (24/02/2006), Nasir tewas di perkebunan karetnya sendiri. Korban tidak bisa bergerak ketika kawanan gajah dewasa lebih dari lima ekor masuk di perkebunan miliknya.Dengan rasa ketakutan, masih cerita harijal, korban sebenarnya sempat berusaha menghindari kelompok gajah liar tersebut. Malah dia sempat menjerit meminta tolong pada penduduk di sekitarnya."Tapi malang bagi Nasir, tubuhnya dinjak-injak gajah kemarin sore. Masyarakat yang mencoba untuk menolong tak kuasa menghalau kelompok gajah tersebut. Tak lama setelah Nasir menjadi korban, gajah itu pun meningalkan lokasi tersebut," kata Harijal.Sebenarnya satu bulan yang lalu, kata Harijal, aparat desa setempat sudah melayangkan surat ke pemerintah Kabupaten Kampar. Warga berharap pemerintah setempat bisa mengatasi masuknya gajah liar ke perkampungan penduduk. "Tapi sayang hingga korban jatuh, belum ada solusi untuk mengatasi konflik ini," ujar Harijal.Tidak cuma di Kampar terjadi konflik. Masih di hari yang sama di Desa Balai Raja, Kecamatan Pinggir, Kabupaten Bengkalis konflik juga terjadi. Malah kawanan gajah ini diperkirakan lebih dari 15 ekor.Warga mencurigai, gajah yang menyerang perkampungan mereka, bukanlah dari kelompok gajah liar, melainkan gajah yang sudah terlatih. Mereka mencurigai gajah itu berasal dari Pusat Pelatihan Gajah (PLG) di Sebanga, Duri, Bengkalis yang tak jauh dari desa tersebut."Kecurigaan itu bisa dibuktikan, gajah-gajah yang masuk perkampungan terlihat di bagian perutnya terdapat tanda nomor berwarna merah. Ada juga gajah yang memakai anting-anting. Biasanya tanda seperti ini tidak terdapat pada gajah liar, melainkan gajah yang ada di PLG," kata Harijal Jalil.Akibat kawanan gajah masuk ke perkampungan penduduk, sedikitnya empat rumah penduduk di desa tersebut hancur berantakan. Ini belum lagi ratusan hektar perkebunan sawit dan karet masyarakat yang juga menjadi sasaran amukan gajah."Sampai saat ini, warga desa setempat masih trauma akan kehadiran gajah tersebut. Sebagian penduduk memilih mengungsi ke rumah-rumah sanak famili mereka. Kita berharap pemerintah segera mengatasi konflik ini," harap Harijal.
(atq/)











































