BRR Akan Usulkan Strategi Investasi Daerah Rawan Bencana
Kamis, 23 Feb 2006 17:44 WIB
Jakarta -
Topografi Indonesia rawan terhadap bencana alam seperti tsunami, gempa bumi, gunung meletus, kekeringan, banjir, maupun tanah longsor. Itu artinya ada daerah-daerah yang rawan terhadap bencana dan karenanya butuh perlakuan yang berbeda dengan wilayah yang relatif aman. Karena itu, Badan Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BRR) akan mengusulkan strategi investasi bagi daerah yang rawan bencana. BRR juga akan mengusulkan agar pemerintah membuat risk finance system. Tujuannya adalah pemerintah agar siap dana saat terjadi bencana alam. "Strategi seperti ini perlu mengingat ada daerah yang rawan bencana dan daerah yang cukup aman dari bencana. Jadi perlakuannya juga tidak bisa sama. Sebelum diusulkan akan kami rundingkan dulu dalam disaster risk reduction workshop," ujar Kepala BRR Kuntoro Mangkusubroto dalam konferensi persdi Gedung Kartini, Jakarta, Kamis (23/2/2006). Konferensi pers juga dihadiri oleh Gubernur Aceh, Mustafa Abu Bakar dan Pakar Bencana Alam PBB Christie Rose. Rencananya workshop tersebut akan berlangsung tanggal 23-24 Februari 2006. Kegiatan itu didukung pula oleh United Nations Development Program dan USAID. Ini merupakan tindak lanjut dari Hyogo Framework yang ditandatangani 168 negara di Kobe Hyogo, Jepang, pada tahun 2005. Perwakilan pemerintah daerah, LSM, akademisi dan kementerian terkait akan datang dalam workshop tersebut. Dengan acara tersebut diharapkan pula dapat tercipta program strategi dalam mengelola dan mengurangi risiko bencana. "Program BRR dalam pengurangan resiko bencana antara lain pemetaan resiko daerah rawan bencana di Aceh, meningkatkan pengetahuan masyarakat agar memahami tanda-tanda bencana, dan menyediakan tenaga penyuluh di setiap kecamatan untuk memandu masyarakat mengenai pengurangan risiko bencana," jelas Kuntoro. Ia juga mengatakan bahwa dengan menerapkan program-program pengurangan risiko bencana di setiap provinsi yang rawan bencana melalui koordinasi yang erat antara lembaga dan partisipasi masyarakat serta dengan penerapan kebijakan dan system keuangan risiko bencana akan membantu Indonesia bangkit dan pulih lebih cepat dari bencana apa pun. Dalam konferensi pers tersebut, pakar Mitigasi Bencana Daerah pesisir Dennis J Hwang mengatakan bahwa dalam kondisi pemanasan global seperti sekarang ini, daerah yang padat penduduk rentan bencana. "Jadi daerah yang padat harus diurai. Tapi tiap daerah tidak bisa disamaratakan, ada faktor-faktor lain yang perlu dikaji," ujar Dennis.
(nrl/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan
