Endemis Flu Burung, Sragen Tidak akan Musnahkan Unggas

Endemis Flu Burung, Sragen Tidak akan Musnahkan Unggas

- detikNews
Kamis, 23 Feb 2006 16:24 WIB
Sragen - Meski secara resmi dinyatakan sebagai salah satu dari enam kabupaten di Jateng yang endemis flu burung, Pemkab Sragen mengaku tidak akan gegabah dalam bersikap. Yang dilakukan ke depan adalah melakukan tindakan preventif, bukan pemberantasan dalam bentuk depopulasi."Sepanjang tahun 2005 dan 2006 di daerah kami tidak ditemukan kematian unggas karena virus AI. Ini artinya langkah preventif yang kami tempuh selama ini membuahkan hasil sehingga akan kami lanjutkan," ujar Sri Hardiarti, Kepala Dinas Peternakan Pemkab Sragen saat ditemui wartawan di Sragen, Kamis (23/2/2006).Diakui dia, pada tahun 2004 terdapat 340 ribu unggas di daerahnya yang mati karena flu burung sehingga saat itu Sragen masuk dalam daftar 28 kabupaten/kota di Jateng yang daerahnya terkena wabah flu burung."Mungkin karena kejadian tahun 2004 itulah sehingga saat ini Sragen disebut masuk daerah endemis, yaitu daerah yang berpotensi timbul kembali wabah flu burung. Tapi setelah itu, tidak tahu mengapa daerah lain tidak dimasukkan daftar," lanjut dia. Seperti diberitakan, di Jateng saat ini terdapat enam kabupaten yang dinyatakan sebagai daerah endemis flu burung yaitu Klaten, Boyolali, Karanganyar, Sukoharjo, Sragen dan Grobogan. Selain Grobogan, semua kabupaten itu masuk dalam wilayah Surakarta.Sri mengaku bahwa sepanjang dua bulan di tahun 2006 ini terdapat 9 ribu unggas di Sragen yang mati. Namun setelah dilakukan pemeriksaan, tidak ada satu pun yang disebabkan oleh virus AI. Kematian itu, lanjut dia, karena cacing, penyakit ND (tetelo) atau karena penyebab lainnya.Karena tidak ada lagi ditemukan kematian unggas akibat AI itulah, maka Pemkab Sragen tetap akan meneruskan langkah preventif serta terus melakukan penyuluhan kepada warga agar proaktif. Tindak pemusnahan, kata Sri, dilakukan jika ditemukan kematian unggas yang secara positif dikarenakan flu burung."Bagi Sragen, saat ini sangat tidak diperlukan dilakukan langkah pemusnahan. Lagipula tindakan itu ekses sosialnya cukup tinggi. Kami akan meneruskan langkah preventif karena menurut kami langkah tersebut paling tepat," ujar Sri."Jika tahun 2005 kami menghabiskan 700 ribu dosis vaksin dan 50 liter desinfektan, pada tahun 2006 ini kami menyediakan 400 ribu dosis vaksin dan 125 liter disinfektan. Tiap 4 cc disinfektan bisa dicairkan menjadi 1 liter. Semoga memadai, namun kalaupun kurang kami akan mendatangkan lagi," lanjutnya. (asy/)


Berita Terkait