Pusat Kesehatan di Palembang Tidak Miliki Pengolahan Limbah
Rabu, 22 Feb 2006 22:51 WIB
Jakarta - Karena mahalnya biaya, sekitar 60 persen pusat pelayanan kesehatan yang ada di Palembang, Sumatera Selatan tidak memiliki instalasi pengelolaan limbah. Padahal limbah merupakan limbah berbahaya."Hasil kajian kita, baru sekitar 40 persen rumah sakit yang memiliki instalator pengelolaan limbah," kata Kepala Bapedalda Palembang Kemas Abubakar kepada pers di kantornya, Jalan Merdeka Palembang, Rabu (22/2/2006).Dijelaskan Abubakar, rumah sakit yang belum memiliki instalator pengelolaan limbah itu termasuk rumah sakit kategori kecil. Misalnya rumah bersalin, puskesmas, klinik kesehatan, serta pusat-pusat pelayanan kesehatan lainnya.Limbah yang dibuang pusat-pusat pelayanan kesehatan tersebut umumnya berupa limbah cair, seperti ari-ari, pencucian alat operasi, sisa darah, kantin, kegiatan loundry, serta kamar mandi pasien dan karyawan. Juga, limbah padat medis dan non medis. Salah satu alasan tidak tersedianya alat tersebut karena harganya cukup tinggi yakni berkisar Rp 5 miliar."Satu-satunya cara pusat pelayanan kesehatan itu diwajibkan bekerjasama dengan rumah sakit skala besar yang memiliki isntalasi pengelolaan limbah," katanya.
(ddn/)











































