Rokok Ilegal di Malang
Modal Cekak, Untung Minim
Rabu, 22 Feb 2006 11:33 WIB
Jakarta - Sebenarnya apa yang membikin para produsen rokok ilegal di Malang tetap terus memproduksi rokoknya? Apakah karena mereka mendapat untung yang besar atau mencoba bersaing dengan para produsen rokok besar? Tentu tidak. M. Eksan, salah seorang produsen rokok kecil dengan merek Mitra Lima yang tinggal di sekitar Kecamatan Gondang Legi, Kepanjen, Kabupaten Malang, saat ditemui detikcom, Selasa (21/2/2006), mengaku sebenarnya para produsen rokok ilegal adalah mereka yang mencoba menggeluti bisnis dengan modal yang sangat kecil."Jadi kalau dikatakan kita mencoba bersaing dengan para produsen rokok besar atau mencari keuntungan yang besar, saya kira itu tidak benar. Untung yang saya dapat saja kecil, hanya cukup untuk makan satu bulan," kata Eksan. Lantas motivasi apa yang membuat mereka terpaksa terjun dalam usaha produk ilegal? Jawaban beberapa produsen rokok ilegal seragam: modal yang minim dan mahalnya mengurus perizinan untuk menjadi produsen rokok ilegal. "Untuk mengurus persyaratan menjadi produsen rokok legal, kita harus melewati 16 persyaratan. Selain itu biaya yang harus kita keluarkan juga sangat besar, kira-kira menghabiskan dana sekitar 5 hingga 10 Juta rupiah, serta memakan waktu yang lama. Jadi, bagi mereka yang bermodal kecil, saya kira mustahil," jelas Eksan. Untuk menjadi produsen rokok legal, seorang produsen rokok harus mengurus berbagai perizinan dari tingkat RT, Lurah, Camat, Kepolisian, mengurus IMB, NPWP, SIUPP, Surat Tanda Daftar Perusahaan dari Dinas Perdagangan, Rekomendasi Dinas Kesehatan, Rekomendasi dari Dinas Tenaga Kerja, mengurus izin cukai di Bea Cukai Malang, rekomendasi cukai dari Bea Cukai Surabaya dilanjutkan mendapat Rekomendasi Cukai dari Bea Cukai Jakarta, serta mendapatkan Nomor Pokok Perusahaan Barang Kena Cukai (NPPBKC) dan yang terakhir pengurusan izin merek. Untung Rp 1 JutaMenurut Amir (32), warga Malang Selatan yang sampai saat ini masih menggeluti dunia rokok ilegal, dirinya terjun ke bisnis rokok ilegal ini untuk menambah pendapatan. Selain itu, dia juga ingin menopang kelangsungan hidup para tetangga yang juga menjadi karyawannya. Bagi dia, meski mendapat keuntungan yang tidak besar dan harus berkejar-kejaran dengan petugas Bea Cukai, namun demi kelangsungan hidup para karyawannya, Amir tetap berusaha agar rokok cap Ninja dan Salome miliknya dapat terus berproduksi. "Meski harus kucing-kucingan dengan petugas, saya tetap memproduksi rokok ini. Soalnya, kalau berhenti, saya kasihan para karyawan. Saat ini semua karyawan saya, hanya mengandalkan hidupnya dari kerja membuat rokok di tempat saya," ujar dia menjelaskan niat mulianya itu. Dengan bermodalkan dana sekitar Rp 1 hingga 5 Juta, mereka mencoba mengadu nasib dengan membuat rokok yang dijual tanpa menggunakan pita cikai dan dijual dengan harga Rp 1.000 hingga Rp 1.500 Per paknya. Dari modal yang minim tersebut, tembakau yang mereka gunakan pertama kalinya sebanyak satu kwintal yang bisa 'disulap' untuk 6.000 pak rokok. Apabila dari 6.000 pak rokok terjual semua dengan harga per paknya Rp 1.000, maka para produsen rokok akan mendapatkan penghasilan sekitar Rp 6.000.000. Setelah dikurangi modal dan biaya produksi serta tenaga kerja tenaga kerja, maka produsen rokok ilegal hanya mengantongi keuntungan bersih kurang dari Rp 1.000.000 per bulannya. Usaha pembuatan rokok tersebut dikerjakan secara manual, dengan melibatkan para tenaga kerja yang direkrut dari masyarakat sekitar yang rata-rata dari kalangan 'elit' (ekonomi sulit). Satu produsen rokok biasanya memiliki karyawan sekitar 28 orang. Dari 28 orang karyawan tersebut dibagi dalam 5 bidang. Per bidang pekerjaan dilakukan oleh 6 orang. Tahapan-tahapan yang dilakukan dalam pembuatan rokok ilegal, sebenarnya sama dengan cara yang dilakukan oleh para produsen rokok besar. Pertama-tama yang mereka kerjakan adalah menjemur tembakau, kemudian dilanjutkan merajang tembakau setelah itu meracik tembakau yang dicampur cengkeh dan saos dan dilanjutkan pelintingan kemudian pengepakan dan yang terakhir adalah pemasaran.
(asy/)











































