Tips Hindari Flu Burung
Mari Budayakan Cuci Tangan
Rabu, 22 Feb 2006 10:45 WIB
Jakarta - Amukan flu burung di Indonesia, menurut Menteri Aburizal Bakrie, sungguh misterius. Sumber pastinya belum jelas. Tapi tindakan preventif agar terjauh dari penyakit mematikan itu cukup sederhana: sering-seringlah mencuci tangan."Untuk masyarakat umum pencegahan terbaik adalah dengan menjaga kesehatan, makan bergizi, istirahat cukup dan menjaga kebersihan seperti membudayakan kembali kebiasaan mencuci tangan," papar Dr Tjandra Yoga Aditama SpP(K), DTM&H, MARS dari Departemen Pulmonologi FKUI pada detikcom, Rabu (22/2/2006). Sedangkan mereka yang sedang menderita influenza tentu juga harus istirahat, minum yang banyak, dan bila keluhan tidak membaik dalam beberapa hari agar segera memeriksakan diri ke petugas kesehatan terdekat.Dr Tjandra juga memaparkan tips pencegahan untuk pekerja peternakan dan pemotongan hewan, yaitu: a) Semua orang yang kontak dengan binatang yang telah terinfeksi harus sering-sering mencuci tangan dengan sabun. Mereka yang langsung memegang dan membawa binatang yang sakit sebaiknya menggunakan desinfektan untuk membersihkan tangannya. b) Mereka yang memegang, membunuh dan membawa/memindahkan unggas yang sakit dan atau mati karena flu burung seyogyanya melengkapi diri dengan baju pelindung, sarung tangan karet, masker, kaca mata google dan juga sepatu boot. c) Ruangan kandang perlu selalu dibersihkan dengan prosedur yang baku dan memperhatikan faktor keamanan petugas. d) Pekerja peternakan, pemotongan dan keluarganya perlu diberi tahu untuk melaporkan ke petugas kesehatan bila mengidap gejala-gejala pernapasan, infeksi mata dan gejala flu lainnya. e) Dianjurkan juga agar petugas yang dicurigai punya potensi tertular ada dalam pengawasan petugas kesehatan secara ketat. Ada yang menganjurkan pemberian vaksin influenza, penyediaan obat anti virus dan pengamatan perubahan secara serologi pada pekerja ini. Dokter spesialis paru-paru RS Persahabatan ini menjelaskan, sekarang ini untuk pencegahan, kita masih bergantung pada Oseltamivir. Mereka yang kontak dengan unggas yang sakit avian influenza, atau juga dengan pasien flu burung, diberikan oseltamivir 1 X 75 mg selama 7 hari. Obat lain yang juga diteliti untuk digunakan sebagai pencegahan adalah Zanamivir dalam bentuk inhalasi.Diungkapannya pula, kini dikenal konsep pencegahan penting yaitu ring chemoprophylaxis yaitu setidaknya 80% - 90% penduduk desa diberi obat pencegahan. Memang pelaksanaanya tidak mudah, karena ada faktor semacam isolasi penduduk, rapid detection and rapid response (1-3 minggu saja), low transmittable virus dll."Tetapi, bagaimana pun juga, teknik ini merupakan salah satu cara yang mungkin dapat dikaji di Indonesia pula," kata Dr Tjandra. Dr Tjandra juga menuturkan, pada manusia kandidat-kandidat vaksin baru dikembangkan, umumnya saat ini baru mencapai fase 2. "Umumnya berasal dari derivat-derivat virus HK/213/03 dan Vietnam/1203/04 H5N1," katanya.
(nrl/)











































