Zaenal Maarif Dukung Hak Suara TNI di Pemilu 2009
Rabu, 22 Feb 2006 00:13 WIB
Solo -
Perdebatan hak pilih TNI dalam pemilu terus bergulir. Wakil Ketua DPR Zaenal Maarif menyatakan TNI seharusnya sudah mendapatkan hak pilihnya dalam Pemilu 2009.Hal tersebut diungkapkan Zaenal di sela-sela menghadiri seminar bertema 'Islam and The West: Cooperation or Confrontation' di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Selasa (21/2/2006). Menurutnya, hak pilih itu dianggap sangat penting untuk memberikan kesempatan kepada seluruh warga negara dalam menyalurkan aspirasi politik tanpa harus masuk politik praktis."Dari segi hak harus diberikan. Kalau itu diberikan akan menjadi tentram. Kalau tidak diberi haknya, suasana hati mereka akan menjadi tidak tentram. Mereka merasa terus dipojokkan. Saya harapkan kepada pihak manapun untuk bisa ikut menjaga TNI sebaik-baiknya," kata Zaenal.Menurutnya, kesan yang hadir saat ini seolah-olah ada pengotakan TNI. "Sekarang ini tidak seluruh warga negara punya hak suara. Ini sudah dipojokkan berlebihan. Saya yakin saat ini TNI sudah siap untuk menggunakan hak suara," jelasnya. Zaenal mengungkapkan, masyarakat juga sudah siap untuk menerima hal tersebut. "Kita atur secara lebih sistemik agar tidak ada pengotakan," lanjutnya.Pemberian hak suara itu, lanjutnya, untuk menghilangkan upaya memojokan berbagai elemen kepada TNI secara institusional. Pemojokan terus-menerus itu dapat muncul berbagai persoalan yang mengarah pada terjadinya konflik. Zaenal juga telah melihat gejala-gejala tidak menguntungkan atas terjadinya pemojokan itu. "Harus diatur secara tepat dengan pemberian hak suara. Saya yakin mereka (TNI) pun ingin disejajarkan dengan warga negara lain dalam hal aspirasi politik. Hak memilih bagi anggota TNI harus diberikan tanpa ada hak dipilih dan tidak diperbolehkan berkampanye," ujarnya.Menurut Zaenal ketika Endriartono yang saat itu menjabat Panglima TNI mengusulkan hak suara TNI di Pemilu, diyakininya bukan sekedar ngomong tapi telah didasarkan pada faktor-faktor psikologis di internal TNI. Apalagi, menurut Zaenal, reformasi di tubuh TNI juga telah dipercepat. "Kalau TNI marah bisa berbahaya kalau Pemilu 2009 tidak beri hak suara," kata dia.
(ary/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































