Taman Nasional Batang Gadis Berpotensi Rp 44,4 Miliar
Selasa, 21 Feb 2006 21:14 WIB
Medan - Keberadaan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG) sebagai kawasan lindung di Kabupaten Mandaling Natal, Sumatera Utara, mampu memberikan manfaat ekonomi yang besar. Diperkirakan memberikan pemasukan Rp 44,4 miliar pertahun. Conservation International Indonesia (CII) sejauh ini masih melakukan penelitian lanjutan di kawasan TNBG. Namun hasil penelitian sementara yang dilakukan Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Gadis, yang anak-anak sungainya berada di dalam TNBG, menunjukkan aliran sungai ini memberikan manfaat ekonomi yang cukup tinggi. Berdasarkan penelitian CII, manfaat ekonomi DAS Batang Gadis untuk air kebutuhan rumah tangga Rp 7 miliar pertahun dan dengan tingkat harga konstan dan faktor diskonto 10 persen dari nilai ini, untuk jangka waktu 25 tahun manfaatnya mencapai Rp 63 miliar. Sedangkan nilai ekonomi DAS sebagai penyedia tata air kebutuhan pertanian Rp 2,6 miliar pertahun dan mencapai Rp 23,3 miliar per 25 tahun. Untuk bidang perikanan, DAS memberikan manfaat Rp 10 miliar pertahun, dan per 25 tahun manfaatnya menjadi Rp 97,4 miliar. Sementara kemampuan ekonomi tidak langsung TNBG sebagai pencegah bencana banjir, erosi, dan tanah longsor Rp 24,8 miliar pertahun, atau Rp 225 miliar selama 25 tahun. "Perhitungan ini masih bersifat sementara dan penelitian masih terus berlangsung. Tetapi dari data ini jelas bahwa keberadaan TNBG untuk menjaga kelestarian hutan, terutama di daerah aliran sungainya mempunyai peranan sangat penting. Baik memberi manfaat ekonomi secara langsung maupun dalam mendukung pembangunan berkelanjutan di Madina," kata Sumatera Resources Economist CII Lelyana Midora, kepada wartawan di Medan, Selasa (21/2/2006). Menurut Lelyana, penelitian masih menghitung aspek-aspek lain yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat yang berada di sekitar TNBG. Namun diperkirakan angka yang dihasilkan tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian sejenis yang dilakukan di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau. Penelitian yang dilakukan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, setiap hektar TNTN memberikan manfaat ekonomi senilai US$ 7,3 pertahun. Jika asumsi ini dipakai untuk TNBG yang luasnya 108.000 hektar, maka nilai ekonominya Rp 7.332.200.000 pertahun, dengan asumsi nilai tukar dolar Rp 9.300. Pembentukan TNBG pada 29 April 2004, menjadi penting mengingat laju kerusakan hutan alam di Sumut sudah sangat memprihatinkan. Data Departemen Kehutanan tahun 2003 menunjukkan, kerusakan hutan di kawasan ini mencapai 3,8 juta ha per tahun. Kerusakan hutan di Sumatera Utara sendiri mencapai 76 ribu ha per tahun dalam kurun waktu 1985 - 1998. Hasil penelitian CII bersama Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Dephut pada tahun 2004 menunjukkan, ditemukan 225 jenis tumbuhan perpembuluh atau hampir satu persen dari total 25 ribu tumbuhan perpembuluh di Indonesia. Di sini terdapat pula bunga padma (Rafflesia sp.) jenis baru yang belum pernah dideskripsikan. Tanaman ini unik karena tidak memiliki akar, daun maupun batang. Sementara dari sisi keragaman fauna, terdapat tidak kurang dari 42 jenis mamalia. Antara lain harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Naemorhedus sumatraensis), tapir (Tapirus indicus), kucing emas (Catopuma temminckii), kancil (Tragulus javanicus), binturong (Arctictis binturong) beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor), kijang (Muntiacus muntjak) dan landak (Hystix brachyura). Selain itu, sampai saat ini ditemukan 247 jenis burung. Sebanyak 38 di antaranya langka, 5 jenis hanya ada di Sumatera, 10 jenis berkontribusi terhadap kawasan burung endemik, 11 jenis endemik untuk Indonesia, dan 10 jenis burung migran yang berasal dari Cina dan Jepang. Kawasan TNBG merupakan salah satu lokasi transit burung-burung migran dari bumi sebelah utara.
(ary/)











































